Jumat, 21 Mei 2010

Games for Islamic Kids


Carilah kata-kata di  bawah ini dengan tepat, di dalam kotak huruf yang telah disediakan!

1.     Muhammad
2.    Abdullah
3.    Aminah
4.    Khodijah
5.    Abu Thalib
6.    Abdul Muthalib
7.    Fatimah
8.    Ali
9.    Umi kulsum
10. Halimatus Sadiyah

Q
W
E
R
T
Y
U
U
I
O
P
O
Y
F
A
S
F
H
U
L
Z
X
C
V
M
U
H
A
M
M
A
D
H
J
K
K
L
Q
M
V
W
E
F
R
T
Y
U
I
O
P
M
A
S
X
Z
V
A
B
I
B
S
V
A
H
D
N
V
M
T
A
I
C
G
H
R
H
D
N
K
M
C
D
T
F
G
X
C
N
M
V
N
G
T
Y
U
I
O
P
U
N
K
Q
I
W
E
R
T
U
I
O
A
B
D
U
L
L
A
H
L
X
H
Q
M
A
S
D
F
G
H
I
H
K
L
M
N
B
V
C
S
Z
O
T
A
B
D
U
L
M
U
T
H
A
L
I
B
Y
B
N
U
E
D
S
H
Z
X
C
V
B
N
M
D
J
A
G
K
L
B
U
M
Y
I
Q
W
E
R
T
Y
U
I
O
P
L
K
J
H
G
F
D
A
J
J
A
F
C
L
D
O
P
B
C
Z
O
P
A
S
X
V
N
M
K
A
B
U
T
H
A
L
I
B
Q
D
A
L
I
U
R
N
E
S
D
H
R
F
C
N
L
U
O
W
X
Z
K
L
R
S
A
C
Z
V
G
R
U
E
M
N
I
Y
R
D
S
B
U
M
J
H
I
O
V
B
H
T
H
A
L
I
M
A
T
U
S
S
A
D
I
Y
A
H
R
C
N
N
I
H
U
E
Y
F
D
A
Q
W
E
R
L
K
U
G
P
P
O







Kamis, 06 Mei 2010

you Are Loved (Don't Give Up)-Josh Groban

Don't give up
It's just the weight of the world
When your heart's heavy I
I will lift it for you

Don't give up
Because you want to be heard
If silence keeps you I
I will break it for you

Everybody wants to be understood
Well I can hear you

Everybody wants to be loved
Don't give up

Because you are loved

Don't give up
It's just the hurt that you hide
When you're lost inside I
I'll be there to find you

Don't give up
Because you want to burn bright
If darkness blinds you I
I will shine to guide you

Everybody wants to be understood
Well I can hear you

Everybody needs to be loved
Don't give up

Because...you are loved

Don't give up
It's just the weight of the world

Don't give up
Everyone needs to be loved
You are loved
 Download music here:
http://www.4shared.com/file/EfILP7B2/You_Are_Loved__Dont_Give_Up_.html

Kisah Tentang Si Bahlul


Bahlul lahir di Kufah, Irak. Nama aslinya adalah Wahab bin Amr. Harun ArRasyid (Khalifah saat itu, dari bani Abbasiyah) takut akan keselamatan kekhalifahan dan kerajaannya. Ia merasa terancam dengan keberadaan Imam Musa al Khazim. Oleh karena itu, ia mencoba untuk menyingkirkan Imam. Harun memikirkan siaasat untuk membunuh Imam. Ia lalu mengecam pembangkangan Imam terhadapnya dan menuntut keputusan pengadilan dan orang-orang yang dianggap bijak pada masa itu. Termasuk di dalamnya Bahlul.
Semua orang, karena takut pada Harun. Memutuskan bahwa imam bersalah kecuali Bahlul, ia justru menentang keputusan tersebut. Lalu ia segera pergi kepada Imam dan memberi informasi tentang kondisi saat itu. Ia meminta nasihat dan petunjuk Imam. Kemudian Imam mengatakan agar ia bertingkah layaknya orang gila
Karena kondisi tersebut (bahwa keselamatan dirinnya terancam karena menentang keputusan  pengadilan rekayasa Harun), Bahlul pun akhirnya bertingkah  layaknya orang gila atas perintah Imam.Dengan melakukan hal itu, ia selamat dari hukuman Harun. Sekarang, tanpa takut pada bahaya dan dengan cara melucu, Bahlul melindungi dirinya dari tirani. Ia mencerca kezaliman khalifah dan para anggota istana, dengan cara berbicara. Namun demikian, rakyat mengakui kebijaksanaan dan keistimewaannyayang luar biasa. Bahkan hingga sekarang, banyak cerita tentangnya dibawakan dalam majelis-majelis dan memberikan pelajaran-pelajaran berharga dari pendengarnya.
Menurut riwayat yang lebih populer, beberapa sahabat Imam dan teman-teman dekat beliau datang kepada beliau untuk meminta nasihat karena khalifah Harun marah pada mereka. Imam lalu menjawab dengan hanya menyebut sebuah huruf, yaitu huruf jim (ج); mereka memahaminya dan tidak bertanya lebih lanjut.
Setiap orang memahami nasihat Imam dengan cara yang berbeda. Salah seorang memaknai jim sebagai ‘jala watan’ yang berarti asingkan diri. Yang lainnya mengartikan sebagai ‘jabal’ yaitu gunung. Sementara Bahlul mengartikannya ‘jinun’ yaitu gila. Itulah cara-cara bagaiman sahabat-sahabat Imam dapat terselamatkan dari malapetaka.
Sebelum bertingkah gila, Bahlul hidup sebagai orang yang berpengaruh dan berkuasa. Tatapi setelah menjadi pengikut Imam, ia mengalihkan wajahnya dari kekuasaan dan kemegahan dunia. Pada kenyataannya ia menjadi “gila” kepada Allah SWT. Ia mengenakan pakaian yang buruk, lebih memilih tempat-tempat terpencil ketimbang di istana Harun, hidup dengan hanya memakan sepotong roti basi. Ia tidak menerima pemberian dari atau bergantung  pada Harun dan orang-orang seperti Harun. Bahlul menganggap dirinya lebih baik daripada khalifah dan para anggota istana, karena jalan hidup yang ia tempuh.
Syair
Mereka yang bertabiat sebagai raja patut memperoleh penghormatan dari para penguasa kerajaan.
Ini adalah raja yang buruk, yang budaknya adalah para raja nyang agung dan berkuasa, seperti raja Jamsyid dan Khaqan.
Hari ini ia mengabaikan keindahan dunia, tetapi esok ia bahkan tak akan memandang penting surga.
Jangan lah memandang hina para pengemis ini, yang tidak memakai sepatu dari kaki-kaki mereka!
Mereka lebih berharga bagi kebijaksanaan daripada mata yang menangis karena takut pada Allah.
Seandainya Adam menjual surga seharga dua butir gandum, maka ketahuilah orang-orang inibahkan tidak akan membelinya meskipun seharga satu butir gandum.
Bahlul sungguh-sungguh mencurahkan perhatiannya kepada Allah.
Ia adalah seorang alim yang cerdas dan berbudi luhur.
Ia adalah orang yang menguasai pikiran dan tingkahlakunya
Ia berbicara dengan jawaban terbaik yang telah siap dibibirnya.
Ia membela keyakinan dan syariat.
Bahlul bertingkah gila atas perintah Imam, dikarenakan kecintaannya pada Ahlulbait, sehingga ia dapat menegakkan hak-hak mereka yang telah dilanggar.

Tak ada jalan lain bagi Bahlul untuk melindungi hidupnya. Sebagai contoh, Harun berkata pada pejabatnya, Yahya bin Khalid Barmaki, bahwa mendengar kata-kata murid Imam Ja’far Shadiq (ayah imam Musa al Khazim), hisyam bin Hikam-yang membuktikan keimanan musa al Khazim-sebagai ssesuatu yang lebih berbahaya daripada 100.000 pedang. Harun berkata, “Bahkan mengherankan bahwa Hisyam masih hidup sementara aku berkuasa.”
Harun berencana untuk membunuh Hisyam. Hisyam mendengar hal ini, sehingga ia melarikan diri dari Kufah dan bersembunyi di rumah seorang temannya. Namun kemudian ia meninggal dunia.

Pengertian & Konsepsi Masyarakat Madani


Kata Madani berasal dari bahasa Arab, dari akar kata مدن yang bermakna ‘membangun kota, membudayakan’, atau ‘memanusiakan. Dari akar kata tersebut dapat diturunkan pula kata تمدن yang bermakna ‘peradaban’. Ungkapan masyarakat madani dapat diberi makna masyarakat yang beradab, masyarakat yang berperadaban, atau masyarakat yang berbudaya, yang di dalamnya manusia benar-benar diperlakukan sebagai manusia.
Konsepsi masyarakat madani yang didambakan itu dapat digambarkan sebagai berikut
1. Masyarakat madani adalah masyarakat yang berperadaban, yang di dalamnya terdapat ukuran-ukuran normatif dalam kehidupan yang digunakan untuk menilai sesuatu itu baik atau tidak baik. Jadi, ukuran baik tidak baik itu ditentukan oleh (kepentingan) diri sendiri.
2. Hubungan sesama manusia dalam masyarakat madani adalah hubungan horizontal. Hubungan vertikal hanya diperlihatkan oleh hubungan antara makhluk dan Tuhan.
3. Hak asasi manusia dalam masyarakat madani dihormati dan dihargai dalam rangka menghormati hak-hak orang lain, bukan dalan rangka memperjuangkan hak-hak pribadi.
4. Kekuasaan masyarakat madani terletak pada rakyat , bukan penguasa. Kebenaran yang diperjuangkan dalam masyarakat madani pun bukan kebenaran penguasa, melainkan kebenaran yang obyektif. Dengan demikian, hukum harus ditegakkan. Dalam pada itu, pihak mana pun yang menggunakan kekuatan untuk memaksakan kehendaknya tidaklah dibenarkan (sumber kompas)

Teknik-teknik Mendapatkan Umpan Balik (pembelajaran)

I. Pendahuluan
Suatu realita sehari-hari, di dalam suatu ruang kelas ketika sesi Kegiatan belajar-mengajar (KBM) berlangsung, nampak beberapa atau sebagian besar siswa belum belajar sewaktu guru mengajar. Sebagian besar siswa belum mampu mencapai kompetensi individual yang diperlukan untuk mengikuti pelajaran lanjutan. Juga, beberapa siswa belum belajar sampai pada tingkat pemahaman. Siswa baru mampu mempelajari (baca: menghafal) fakta, konsep, prinsip, hukum, teori, dan gagasan inovatif lainnya pada tingkat ingatan, mereka belum dapat menggunakan dan menerapkannya secara efektif dalam pemecahan masalah sehari-hari yang kontekstual. Ini terjadi karena, guru belum optimal memberdayakan ‘tambang emas’ potensi masing-masing siswa yang sering kali tersembunyi.
Kalau masalah ini dibiarkan dan berlanjut terus, lulusan sebagai generasi penerus bangsa akan sulit bersaing dengan lulusan dari negara-negara lain. Lulusan yang diperlukan tidak sekedar yang mampu mengingat dan memahami informasi tetapi juga yang mampu menerapkannya secara kontekstual melalui beragam kompetensi. Di era pembangunan yang berbasis ekonomi dan globalisasi sekarang ini diperlukan pengetahuan dan keanekaragaman keterampilan agar siswa mampu memberdayakan dirinya untuk menemukan, menafsirkan, menilai dan menggunakan informasi, serta melahirkan gagasan kreatif untuk menentukan sikap dalam pengambilan keputusan
Inti dari paparan materi ini adalah untuk mengembangkan kompetensi peserta didik secara optimal sesuai dengan potensi dan kebutuhan peserta didik, keadaan sekolah dan tuntutan kehidupan di masa depan. Informasi yang disajikan diharapkan dapat membantu guru untuk mengembangkan gagasan tentang penyediaan strategi mengajar yang mengacu pada pencapaian kompetensi individual masing-masing peserta didik. Kegiatan Belajar-Mengajar adalah suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang memadukan secara sistematis dan berkesinambungan kegiatan pendidikan di dalam lingkungan sekolah dengan kegiatan pendidikan yang dilakukan di luar lingkungan sekolah dalam wujud penyediaan beragam pengalaman belajar untuk semua peserta didik. Ini berarti, diversifikasi kurikulum tidak terbatas pada diversifikasi materi, tetapi juga terjadi pada diversifikasi pengalaman belajar, diversifikasi tempat dan waktu belajar, diversifikasi alat belajar, diversifikasi bentuk organisasi kelas, dan diversifikasi cara penilaian.
Pandangan ini memberikan dampak pada penyelenggaraan KBM. Bila selama ini KBM hanya ditandai kegiatan satu arah penuangan informasi dari guru ke siswa dan hanya dilaksanakan dan berlangsung di sekolah maka KBM dengan nuansa Kurikulum Berbasis Kompetensi diindikasikan dengan keterlibatan siswa secara aktif dalam membangun gagasan/ pengetahuan oleh masing-masing individu dan lazimnya dapat diselenggarakan di beberapa lokasi seperti di kelas, di lingkungan sekolah, di perpustakaan, di laboratorium, di pasar, di toko, di pantai, di tempat rekreasi, di kebun binatang, atau di tempat-tempat lain. Bila dibuat suatu ilustrasi tentang siswa, kegiatan belajar-mengajar (KBM), lulusan, kurikulum, dan lingkungan dalam sebuah sistem. (Brooks, J.G. & Brooks, M.G. 1993: 9-12) .
Pada permasalahan ini ada salah satu teknik yang mendukung yaitu umpan balik yang mana umpan balik ini akan saya bahas, bagaiman teknik-teknik mendapatkan umpan balik, diantaranya dengan memancing apersepsi anak didik, memanfaatkan teknik alat bantu akseptabel, memilih bentuk motivasi yang akurat dan menggunakan metode yang bervariasi.
II. Pembahasan
Pola umum terjadinya interaksi belajar mengajar adalah terjadinya interaksi antara tiga unsur, yaitu: guru, bahan dan anak didik. Bahan sebagai isi dari proses belajar mengajar disampaikan guru untuk diterima oleh anak didik. Bahan di sini sebagai perantara untuk terjadinya interaksi belajar mengajar antara guru dengan anak didik. Itu berarti tanpa bahan tidak akan terjadi interaksi belajar mengajar.
Dalam kegiatan pengajaran tidak lain yang harus guru capai, kecuali bagaimana anak didik dapat menguasai bahan pelajaran secara tuntas (mastery). Masalh ini tetap aktual untuk dibicarakan dari dulu hingga sekarang. Sebab bagaimana pun juga keberhasilan pengajaran ditentukan sampai sejauh mana penguasaan anak didik terhadap bahan pelajaran yang disampaikan oleh guru. Untuk sampai ke sana, yaitu anak didik dapat menguasai semua bahan yang diberikan, tidak gampang; karena hal ini akan terpulang pada masalah bagaimana umpan balik yang diberikan oleh anak didik selama pengajaran berlangsung .
Untuk mendapatkan umpan balik dari anak didik diperlukan beberapa teknik yang sesuai dan tepat dengan diri setiap anak didik sebagai makhluk individual, teknik-teknik tersebut antara lain:
A. Memancing Apersepsi Anak Didik
Anak didik adalah orang yang memiliki kepribadian dengan ciri-ciri yang khas sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhannya. Perkembangan dan pertumbuhan anak didik mempengaruhi sikap dan tingkah lakunya. Perkembangan dan pertumbuhan anak itu sendiri dipengaruhi oleh lingkungan kehidupan sosial masyarakatnya sehingga sikap, perilaku dan pandangan hidup anak dipengaruhi oleh lingkungan yang membentuknya. Contohnya perbedaan pengetahuan yang dimiliki oleh anak yang hidupnya di kota dengan anak yang hidupnya di desa.
Latar belakang kehidupan sosial anak penting untuk diketahui oleh guru. Sebab dengan mengetahui dari mana anak bersal, dapat membantu guru untuk memahami jiwa anak. Pengalaman apa yang dipunyai anak adalah hal yang sangat membantu untuk memancing perhatian anak Anak biasanya senang membicarakan hal-hal yang menjadi kesenangannya.
Dalam mengajar, pada saat yang tepat, guru dapat memanfaatkan hal-hal yang menjadi kesenangan anak untik diselipkan dalam melengkapi isi dari bahan pelajaran yang disampaikan. Tentu saja pemanfaatannya tidak sembarangan, tetapi harus sesuai dengan bahan pelajaran. Pendekatan realisasi ini dirasakan memudahkan pengertian dan pemahaman anak didik terhadap bahan pelajaran yang yang disajikan.
Pengalaman anak mengenai bahan pelajaran yang telah diberikan merupakan bahan apersepsi yang dipunyai oleh anak. Pengalaman atau pengetahuan anak tersebut dapat dimanfaatkan untuk memancing perhatian anak terhadap bahan pelajaran yang akan diberikan, sehingga anak terpancing untuk memperhatikan penjelasan guru. Dengan demikian, usaha guru menghubungkan pengetahuan yang telah dimiliki anak didik dengan pengetahuan yang masih relevan yang akan diberikan, merupakan teknik untuk mendapatkan umpan balik dari anak didik dalam pengajaran.
Bahan apersepsi sangat membantu anak didik dalam usaha mengolah kesan-kesan dari bahan pelajaran yang diberikan oleh guru.
B. Memanfaatkan Taktik Alat Bantu yang Akseptabel
Bahan pelajaran adalah isi yang disampaikan oleh guru dalam proses belajar mengajar. Bahan yang akan disampaikan oleh guru itu bermacam-macam sifatnya, mulai dari yang mudah, sedang, sampai ke yang sukar. Tinjauan mengenai sifat bahan ini dikarenakan dalam setiap kali proses belajar mengajar berlangsung ada di antara anak didik yang kurang mampu memproses / mengolah bahan dengan baik, sehingga pengertian pun sukar didapatkan. Inteligensi adalah faktor lain yang menyebabkannya. Sukar dipahaminya penjelasan guru juga menjadi faktor penyebabnya .
Guru yang menyadari kelemahan dirinya untuk menjelaskan isi dari bahan pelajaran yang disampaikan sebaiknya memanfaatkan alat bantu untuk membantu memperjelas isi dari bahan. Dalam dunia pengajaran dan pembelajaran, alat bantu yang dimaksud biasanya disebut media dalm pembelajaran itu sendiri. Media berasal dari kata latin yang merupakan bentuk jamak dari kata medium yang berarti perantara. Jadi secara harfiah media diartikan sebagai perantara atau pengantar pesan. Dalam bidang pendidikan, Association for educational Communications and Technology (AECT, 1977), yaitu suatu asosiasi yang bergerak dalam bidang teknologi komunikasi edan pendidikan, mendefinisikan media sebagai segala bentuk yan digunakan untuk menyalurkan informasi .
Telah disinggung di atas bahwa penggunaan alat bantu/ media untuk memperjelas bahan pelajaran. Adapun tujuan lain yang tak kalah penting di dalm penggunaan alat bantu ini adalah:
1. Memperbesar benda yang sangat kecil dan tidak tampak oleh mata menjadi lebih besar
2. Menyajikan benda atau peristiwa yang jauh kehadapan peserta
3. Menyajikan peristiwa yang kompleks, rumit, berlangsung dengan cepat atau amat lambat menjadi lebih sistematis dan sederhana.
4. Menampung sejumlah besar peserta untuk mempelajari materi pelajaran dalam waktu yang sama
5. Menyajikan benda atau peristiwa berbahaya kehadapan siswa
6. Meningkatkan daya tarik pelajaran dan perhatian siswa
7. Meningkatkan sistematika pengajaran
Adapun manfaat dari penggunaan alat bantu/ media dalam pembelajaran adalah:
1. Untuk memperlancar interaksi antara guru dan siswa
2. Proses belajar menjadi lebih menarik
3. Proses belajar siswa menjadi lebih interaktif
4. Jumlah waktu mengajar dapat dikurangi
5. Meningkatkan kualitas belajar siswa
6. Proses pembelajaran dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja
7. Menimbulkan sikap positif siswa terhadap proses pembelajaran
Menurut Basyiruddin Usman, media dapat digolongkan menjadi 8 kategori, yaitu:
a. Realthing, dapat berupa manusia (guru) itu sendiri, benda sesungguhnya dan peristiwa yang terjadi.. Pengajar adalah media utama dalam proses belajar-mengajar dan merupakan motivator atau fasilitas bagi siswa untuk mengoptimalkan kegiatan belajar.
b. Verbal refresentation; berupa media tulis/cetak, buku teks dan sebagainya.
c. Grafic Representation; berupa chart, diagram, gambar atau lukisan
d. Still Picture; seperti foto, slide, film strif, dan media visual lainnya.
e. Motion Picture; film, televisi, video, tape dan lainnya
f. Audio Recording; pita kaset, real tape, piringan hitam, sound track dan sebagainya
g. Simulation; berupa permainan yang menirukan kejadian yang sebenarnya, sebagai contoh simulasi perang-perangan dan lainnya .
Alat bantu yang akseptabel dapat dimanfaatkan sebagai taktik yang jitu untuk meningkatkan perhatian anak didik terhadap bahan pelajaran yang disampaikan oleh guru. Umpan balik pun terjadi seiring dengan proses belajar anak didik yang berkelanjutan.
C. Memilih Bentuk Motivasi yang Akurat
Proses belajar mengajar adalah suatu proses yang dengan sengaja diciptakan untuk kepentingan anak didik. Agar anak didik senang dan bergairah belajar, guru berusaha menyediakan lingkungan belajar yang kondusif dengan memanfaatkan semua potensi kelas yang ada.
Motivasi merupakan faktor yang mempunyai arti penting bagi seoranga anak didik. Apalah artinya anak didik pergi ke sekolah tanpa motivasi untuk belajar. Dalam usaha untuk membangkitkan gairah belajar anak didik, ada enam hal yang dapat dikerjakan oleh guru, yaitu:
1. Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar
2. Menjelaskan secara konkret kepada anak didik apa yang dapat dilakukan pada akhir pengajaran
3. Memberikan ganjaran terhadap prestasi yang dicapai anak didik sehingga dapat merangsang untuk mendapat prestasi yang lebih baik dikemudian hari
4. Membentuk kebiasaan belajar ang baik
5. Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok
6. Menggunakan metode yang bervariasi
Kemudian ada beberapa bentuk motivasi yang dapat guru gunakan guna mempertahankan minat anak didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan, yaitu :
a. Memberi Angka; Angka dimaksud sebagai simbol atau nilai dari hasil aktivitas belajar anak didik.
b. Hadiah; Sesuatu yang diberikan kepada orang lain sebagai penghargaan/ cinderamata
c. Pujian; alat motivasi yang positif
d. Gerakan tubuh; bentuk mimik yang cerah, dengan senyum, mengangguk,acungan jempol, tepuk tangan, memberi salam, menaikkan bahu, menggelengkan kepala, menaikkan tangan dan lain-lain
e. Memberi Tugas; suatu pekerjaan yang menuntut pelaksanaan untuk diselesaikan
f. Memberi Ulangan; Salah satu strategi yang penting dalam pengajaran
g. Mengetahui Hasil
h. Hukuman
Peserta didik akan aktif dalam kegiatan belajarnya bila ada motivasi, baik itu motivasi ekstrinsik maupun instrinsik. Beberapa hal yang dapat merangsang tumbuhnya motivasi belajar aktif pada diri peserta didik, antara lain :
a. Penampilan guru yang hangat dan menumbuhkan partisipasi positif
Sikap guru tampil hangat, bersemangat, penuh percaya diri dan antusias, serta dimulai dan pola pandang bahwa peserta didik adalah manusia-manusia cerdas berpotensi, merupakan faktor penting yang akan meningkatkan partisipasi aktif peserta didik. Segala bentuk penampilan guru akan membias mewarnai sikap para peserta didiknya. Bila tampilan guru sudah tidak bersemangat maka jangan harap akan tumbuh sikap aktif pada diri peserta didik. Karena itu hendaknya seorang guru dapat selalu menunjukkan keseriusannya terhadap pelaksanaan proses, serta dapat meyakinkan bahwa materi pelajaran serta kegiatan yang dilakukan merupakan hal yang sangat penting bagi peserta didik, sehingga akan tumbuh minat yang kuat pada diri para peserta didik yang bersangkutan.
b. Peserta didik mengetahui maksud dan tujuan pembelajaran
Bila peserta didik telah mengetahui tujuan dari pembelajaran yang sedang mereka ikuti, maka mereka akan terdorong untuk melaksanakan kegiatan tersebut secara aktif. Oleh karena itu pada setiap awal kegiatan guru berkewajiban memberi penjelasan kepada peserta didik tentang apa dan untuk apa materi pelajaran itu harus mereka pelajari serta apa keuntungan yang akan mereka peroleh. Selain itu hendaknya guru tidak lupa untuk mengadakan kesepakatan bersama dengan para peserta didiknya mengenai tata tertib belajar yang berlaku agar kegiatan pembelajaran dapat berlangsung lebih efektif.
c. Tersedia fasilitas, sumber belajar, dan lingkungan yang mendukung
Bila di dalam kegiatan pembelajaran telah tersedia fasilitas dan sumber belajar yang “menarik” dan “cukup” untuk mendukung kelancaran kegiatan belajar mengajar maka hal itu juga akan menumbuhkan semangat belajar peserta didik. Begitu pula halnya dengan faktor situasi dan kondisi lingkungan yang juga penting untuk diperhatikan, jangan sampai faktor itu memperlunak semangat dan keaktifan peserta didik dalam mengikuti kegiatan belajar.
d. Adanya prinsip pengakuan penuh atas pribadi setiap peserta didik
Agar kesadaran akan potensi, eksistensi, dan percaya diri pada diri peserta didik dapat terus tumbuh, maka guru berkewajiban menjaga situasi interaksi agar dapat berlangsung dengan berlandaskan prinsip pengakuan atas pribadi setiap individu. Sehingga kemampuan individu, pendapat atau gagasan, maupun keberadaannya perlu diperhatikan dan dihargai. Dan yang penting lagi guru hendaknya rajin memberikan apresiasi atau pujian bagi para peserta didik, antara lain dengan mengumumkan hasil prestasi, mengajak peserta didik yang lain memberikan selamat atau tepuk tangan, memajang hasil karyanya di kelas atau bentuk penghargaan lainnya.
e. Adanya konsistensi dalam penerapan aturan atau perlakuan oleh guru di dalam proses belajar mengajar.
Perlu diingat bahwa bila terjadi kesalahan dalam hal perlakuan oleh guru di dalam pengelolaan kelas pada waktu yang lalu maka hal itu berpengaruh negatif terhadap kegiatan selanjutnya. Penerapan peraturan yang tidak konsisten, tidak adil, atau kesalahan perlakuan yang lain akan menimbulkan kekecewaan dari para peserta didik, dan hal ini akan berpengaruh terhadap tingkat keaktifan belajar peserta didik. Karena itu di dalam memberikan sanksi harus sesuai dengan ketentuannya, memberi nilai sesuai kriteria, dan memberi pujian tidak pilih kasih.
Macam-macam bentuk motivasi di atas dapat dimanfaatkan oleh guru untuk mendapatkan umpan balik dari anak didik dalam proses belajar mengajar.
D. Menggunakan Metode yang bervariasi
Proses belajar dewasa ini menuntut seorang guru memiliki keterampilan atau metode yang beragam agar proses belajar tersebut menyenangkan dan mampu mengembangkan kemampuan muridnya. Metode merupakan hal yang lebih penting dari materi yang akan diajarkan. Menurut DR. Ahmad Tafsir, metode adalah cara yang paling tepat dan cepat, kata “cepat dan tepat disini sering diungkapkan dengan ungkapan efektif dan efisien . Di sini seorang guru harus memilih cara yang efektif dan efisien dalam mentransformasi dan mengembangkan pengetahuan muridnya dan metode dalam pembelajaran agama Islam adalah cara yang efektif dan efisien dalam mengajarkan agama Islam itu sendiri. Pengajaran yang efektif artinya pengajaran yang dapat dipahami murid secara sempurna, dalam hal ini ialah pengajaran yang berfungsi pada murid. “Berfungsi” artinya menjadi milik murid, pengajaran itu membentuk dan mempengaruhi pribadinya. Adapun pengajaran cepat adalah pengajaran yang tidak memerlukan waktu yang lama, artinya pengajaran tersebut difasilitasi alat–alat pembelajaran yang dapat mempermudah pemahaman murid terhadap materi yang diajarkan.
Metode adalah strategi yang tidak bisa ditinggalkan dalam proses belajar mengajar. Setiap kali mengajar guru pasti menggunakan metode. Metode yang digunakan itu tidak sembarangan, melainkan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Penggunaan metode yang bervariasi dapat menjembatani gaya-gaya belajar anak didik dalm menyerap bahan pelajaran. Umpan balik dari anak didik akan bangkit sejalan dengan penggunaan metode mengajar yang sesuai dengan kondisi psikologis anak didik.
Macam-macam metode konvesional dalam pembelajaran antara lain :
1. Metode ceramah
2. Metode diskusi
3. Metode tanya jawab
4. Metode demonstrasi dan eksprimen
5. Metode resitasi
6. Metode kerja kelompok
7. Metode sosio-drama
8. Metode karya wisata
9. Metode drill
10. Metode sistim regu
Selain dari metode konvesional di atas, masih banyak metode yang dapat digunakan oleh guru guna mendapatkan umpan balik dari bahan pelajaran yang diajarkan. Seperti metode active learning 101 cara belajar siswa aktif karangan Melvin L. Silberman.
III Simpulan
Teknik-teknik mendapatkan umpan balik, diantaranya dengan;
• memancing apersepsi anak didik
• memanfaatkan teknik alat bantu akseptabel
• memilih bentuk motivasi yang akurat
• menggunakan metode yang bervariasi.
IV Daftar Pustaka
Bahri Djamarah, Syaiful., Satartegi Belajar Mengajar, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006
Http/; Dokumens multiply.Com
Robinson Situmorang, Atwi Suparman dan Rudi Susilana, 2004, Desain Pembelajaran, Jakarta : Universitas Terbuka
Tafsir, Ahmad., 2007, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Jakarta: PT Remaja Rosda Karya.
Usman, Basyiruddin., 2002, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, Jakarta : Ciputat Pers

Dasar-dasar Pertimbangan Pemilihan Metodologi Pembelajaran PAI (Pendidikan Agama Islam)

I. Latar Belakang
Suatu hari seorang nelayan di pinggir sungai Musi, Palembang ingin sekali menikmati pindang ikan. Dengan niatnya itu, si nelayan lalu bergegas mempersiapkan alat-alat yang digunakan untuk menangkap ikan seperti ; pancing, jaring dan boom ikan. Disini nelayan itu harus menentukan alat apa yang harus digunakan menangkap ikan agar tangkapannya banyak dan segar-segar. Setelah ditimbang-timbang alat yang tepat untuk digunakan menangkap ikan, si nelayan memilih jaring karena dengan menggunakan jaring pastinya ikan yang di dapat lebih banyak dibandingkan dengan pancing dan tidak berbahaya dibanding menggunakan boom serta penggunaan jaring tidak banyak menghabiskan waktu / lebih efisien. Singkat cerita pada sore harinya si nelayan itu pun berhasil mendapatkan banyak ikan, memindangnya dan sebagiannya untuk dijual.
Sengaja ilustrasi di atas kami tampilkan dalam makalah ini sebagai penegasan bahwa seseorang harus memiliki keterampilan dan kepandaian mensiasati suatu tujuan yang ingin dicapainya agar tepat sesuai dengan yang diinginkan. Seorang guru yang merupakan salah satu komponen manusiawi di bidang kependidikan harus berperan serta secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional, salah satu peran seorang guru adalah menjadi fasilitator, guru dalam hal ini akan memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar-mengajar, guru harus menciptakan suasana kegiatan belajar yang sedimikian rupa, serasi dengan perkembangan siswa, sehingga interaksi belajar-mengajar akan berlangsung secara efektif[1].
Proses belajar dewasa ini menuntut seorang guru memiliki keterampilan atau metode yang beragam agar proses belajar tersebut menyenangkan dan mampu mengembangkan kemampuan muridnya. Metode merupakan hal yang lebih penting dari materi yang akan diajarkan. Menurut DR. Ahmad Tafsir, metode adalah cara yang paling tepat dan cepat, kata “cepat dan tepat disini sering diungkapkan dengan ungkapan efektif dan efisien[2]. Di sini seorang guru harus memilih cara yang efektif dan efisien dalam mentransformasi dan mengembangkan pengetahuan muridnya dan metode dalam pembelajaran agama Islam adalah cara yang efektif dan efisien dalam mengajarkan agama Islam itu sendiri. Pengajaran yang efektif artinya pengajaran yang dapat dipahami murid secara sempurna, dalam hal ini ialah pengajaran yang berfungsi pada murid. “Berfungsi” artinya menjadi milik murid, pengajaran itu membentuk dan mempengaruhi pribadinya. Adapun pengajaran cepat adalah pengajaran yang tidak memerlukan waktu yang lama, artinya pengajaran tersebut difasilitasi alat–alat pembelajaran yang dapat mempermudah pemahaman murid terhadap materi yang diajarkan.
Agar metode yang digunakan terasa nyaman, menyenangkan di dalam proses pembelajaran dan membuat para murid selalu bersemangat untuk mengikuti proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), seorang guru (PAI) haruslah memiliki dasar-dasar pertimbangan sebelum menggunakan suatu metode. Makalah ini membahas dasar-dasar pertimbangan ketika akan memilih suatu metode di dalam pembelajaran pendidikan agama Islam.
II. Pembahasan
Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan seorang guru di dalam menggunakan suatu metode pembelajaran, yaitu; tujuan, peserta didik, bahan pelajaran, fasilitas, situasi,partisipasi, guru, kebaikan dan kelemahan metode tertentu. Sama halnya dengan faktor di atas, Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar Mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih dan mengaplikasikan metode pengajaran: 1). Tujuan yang hendak dicapai, 2) Kemampuan guru, 3) Anak didik, 4) Situasi dan kondisi pengajaran di mana berlangsung, 5) Fasilitas yang tersedia, 6) Waktu yang tersedia, 7). Kebaikan dan kekurangan sebuah metode[3].
1. Tujuan yang hendak di capai
Setiap orang yang mengerjakan sesuatu haruslah mengetahui dengan jelas tentang tujuan yang hendak di capainya. Demikian juga setiap pendidik atau guru yang pekerjaan pokoknya mendidik dan mengajar harus mengerti dengan jelas tentang tujuan pendidikan. pengertian akan tujuan pendidikan ini mutlak perlu sebab tujuan itulah yang menjadi sasaran dan dan menjadi pengarah daripada tindakan-tindakanya dalam menjalan fungsinya sebagai guru disamping menjadi sasaran dan menjadi pengarah, tujuan pendidikan dan pengajaran juga berfungsi sebagai pemilihan dan penentuan alat-alat (termasuk metode) yang digunakan dalam mengajar.
Menurut Abu Ahmadi mengatakan bahwa tahap-tahap tujuan pendidikan Islam meliputi:1. tujuan tertinggi, 2. tujuan umum 3. tujuan khusus, 4. tujuan sementara. Dalam tujuan pendidikan Islam, tujuan tertinggi atau terakhir ini pada akhirnya sesuai dengan tujuan hidup manusia, dan perannya sebagai makhluk ciptaan Allah, yaitu: 1 menjadi hamba Allah (Q.S Az- Zariat: 56), 2 mengantarkan peserta didik menjadi khalifah fi al-Ardh (Q.S. 2 ; 20), 3 untuk memperoleh kesejahteraan, kebahagiaan hidup di dunia sampai akhirat, baik individu maupun masyarakat (Q.S Al Baqarah : 21 dan Al-Qashash : 77)[4].
Tujuan umum itu perlu dijabarkan menjadi tujuan khusus atau yang disebut Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) sebab dengan demikian guru akan mendapatkan yang jelas tentang apa yang hendak di capainya itu dan guru dapat mempersiapkan alat-alat apa yang akan di pakainya serta metode yang tepat yang akan digunakannya[5]. Ditegaskan lagi oleh Melvin L. Silberman, Guru yang menginginkan pembelajaran bidang studinya berjalan aktif, maka guru harus mengetahui kebutuhan dan harapan siswa dalam bidang studi yang akan dipelajari, sehingga dengan mengetahui tujuan siswa maka pembelajaran aktif akan terwujud[6]. Hal ini dapat guru tanyakan pada awal pembelajaran, “apa yang dibutuhkan oleh siswa pada bidang studinya?”. Dengan demikian siswa akan aktif dikarenakan kebutuhannya akan bidang studi yang dipelajarinya dipenuhi.
2. Peserta Didik.
Para peserta didik merupakan faktor yang tak kalah penting yang harus dipertimbangkan oleh guru dalam memilih metode mengajar. Ini sebab metode mengajar itu ada yang menuntut pengetahuan dan kecekatan tertentu misalnya; metode diskusi menuntut pengetahuan yang cukup banyak supaya pesarta diskusi dapat mengetahui serta menilai benar atau salahnya suatu pendapat yang dikemukakan peserta lain dan penguasaan bahasa serta keterampilan dalam mengemukakan pendapat. Menurut Basyiruddin Usman, perbedaan karakteristik siswa dipengaruhi oleh latar belakang kehidupan sosial ekonomi, budaya, tingkat kecerdasan, dan watak mereka yang berlainan antara satu dengan yang lainnya, menjadi pertimbangan guru dalam memilih metode apa yang baik digunakan[7].
Semakin tinggi jenjang pendidikan peserta didik semakin sederhana metode yang kita gunakan. Sebaliknya semakin rendah jenjang pendidikan peserta didik semakin bervariasi metode yang digunakan. Untuk pendidikan dasar lebih diutamakan metode yang melibatkan psikomotorik dan afektif (seperti demonstrasi, simulasi, peragaan, kerja praktik dan sejenisnya), sedangkan pada pendidikan tinggi lebih diutamakan metode yang melibatkan aspek kognitif (diskusi, seminar, studi kasus, dll). Namun tidak menutup kemungkinan setiap metode digunakan di semua jenjang pendidikan[8].
3. Bahan Pelajaran.
Bahan pelajaran yang menuntut kegiatan penyelidikan oleh peserta didik hendaklah disajikan melalui metode unit/metode proyek. Apabila bahan pelajaran mengandung problem-problem harus disajikan melalui metode-metode pemecahan masalah. Bahan pelajaran yang berisi fakta-fakta dapat disajikan misalnya melalui metode ceramah, sedangkan bahan pelajaran yang terdiri dari latihan-latihan misalnya keterampilan–keterampilan disajika melalui metode drill, dan sebagainya.
Jenis materi pelajaran (kognitif, psikomotorik, afektif), setiap guru terlebih dahulu harus mengenali kecenderungan materi yang akan diajarkan, metode materi yang cinderung dominan pada kognitif akan berbeda dengan metode materi yang dominan pada psikomotorik dan afektif[9].
4. Fasilitas
Yang termasuk dalam faktor fasilitas ini antara lain adalah praga, ruang waktu, buku-buku, perpustakaan, kerapatan tempat dan alat-alat praktikum, fasilitas ini turut menentukan metode mangajar yang akan di pakai oleh guru. Pengaruh fasilitas dan pemilihan serta penentuan metode ini ternyata dalam situasi di mana metode Demonstrasi dan Ekperiment tidak dapat dipakai karena tidak tersedianya alat-alat dan bahan-bahan untuk mengadakan demontrasi dan eksperimen /percobaan.
Dalam proses pembelajaran, lingkungan fisik dalam kelas dapat mendukung atau menghambat kegiatan belajar aktif. Di sini guru dapat mengubah tata letak bangku dan meja agar proses pembelajaran lebih menyenangkan dan menantang, suatu tata letak bangku yang beda dari biasanya akan akan membantu siswa dalam mengingat materi yang diajarkan pada saat itu. Melvin L Silberman memberikan beberapa contoh tata-letak kursi dan meja yang dapat dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran aktif, seperti; bentuk U, gaya tim, meja konferensi, lingkaran, kelompok pada kelompok, ruang kerja, pengelompokan berpencarformasi tanda pangkat, ruang kelas tradisional dan auditorium[10].
Sekolah yang memiliki peralatan dan media yang lengkap, gedung yang baik, dan sumber belajar yang memadai akan memudahkan guru dalam memilih metode yang bervariasi[11].
5. Situasi
Yang termasuk dalam situasi disini ialah keadaan peserta didik (yang menyangkut kelelahan mereka, semangat mereka) keadaan cuaca, keadaan guru, keadaan kelas yang berdekatan yang diberikan pelajaran dengan metode tertentu.
Terdapat beberapa saran di dalam memperkaya situasi atau lingkungan kelas, yaitu: 1. dengan memperkaya kelas dengan warna dan 2. Dengan memberikan wangi-wangian/ aroma. Menurut Morton Walker dalm bukunya The Power of Color (1991), menegaskan bahwa setiap warna memiliki panjang gelombang, dari ultraviolet hingga inframerah (atau merah hingga biru) dapat mempengaruhi tubuh dan otak kita secara berbeda. Contoh warna biru dapat memberikan ketenangan, meningkatkan perasaan nyaman. Dan begitu juga dengan aroma, Dave Maier mengatakan wewangian benar-benar dapat berpengaruh positif pada pemrosesan mental, contohnya kayu manis dapat menambah kegembiraan dan kebaikan[12]. Banyak hal yang dapat dilakukan guru untuk menambah kenyamanan, keasyikan belajar di dalam kelas maupun di luar kelas.
6. Partisipasi
Paritsipasi adalah turut aktif dalam suatu kejadian. Apabila guru ingin agar peserta didik turut aktif sama merata dalam suatu kegiatan, guru tersebut tentunya akan menggunakan metode kerja kelompok/demikian pula apabila peserta didik di kehendaki turut berpartisipasi dalam suatu kegiatan ilmiah, misalnya mengumpulkan data yang kemudian disajikan dalam pembahasan ilmiah maka tentunya guru akan menggunakan metode unit atau metode seminar.
Dalam pembelajaran aktif partisipasi siswa sangat diperlukan ada beberapa cara untuk menyusun diskusi dan mendapatkan respon dari siswa pada saat kapan saja selama pelajaran, yaitu ; diskusi terbuka, kartu jawaban, jejak-pendapat, diskusi sub kelompok, mitra belajar, penyemangat, panel, ruang terbuka, permainan dan memanggil acara selanjutnya[13].
7. Guru
Guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar-mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan. Di dalam metode mengajar, guru dituntut untuk memenuhi syarat-syarat yang perlu dipenuhi misalnya tiap guru yang akan menggunakan metode tertentu ia harus mengerti tentang metode tersebut (misalnya jalannya pengajaran serta kebaikan dan kelemahannya, situasi-situasi yang tepat dimana metode itu efektif dan wajar) dan terampil menggunakan metode itu. Guru yang bahasanya kurang baik (kurang dapat berbahasa lisan dengan baik) dan tidak bersemangat dalam berbicara kurang pada tempatnya apabila mengguanakan metode ceramah. Guru yang tidak mengetahui seluk beluk tentang metode proyek, tentang metode unit, tidak akan memili metode tersebut dalam menyajikan bahan pelajaran.
Dari apa yang disampaikan diatas dapat disimpulkan bahwa pribadi, pengetahuan, dan kecekatan guru amat menentukan metode mengajar yang akan di gunakan. Kemampuan dasar guru amat mempengaruhi proses belajar mengajar.
8. Kebaikan dan Kelemahan
Tidak ada satu metode yang baik untuk setiap tujuan dalam setiap situasi. Setiap metode mempunyai kelemahan. Guru perlu mengetahui kapan suatu metode tepat di gunakan dan kapan harus digunakan dan kapan harus digunakan kombinasi dari metode-metode. Guru hendaknya memilih metode yang paling banyak mendatangkan hasil. Dan perlu diperhatikan, hendaknya setiap penggunaan metode, menuntut unsur kesenangan dan kegembiraan.
III. Simpulan
Dasar-dasar yang dipertimbangkan di dalam metodologi pendidikan agama Islam adalah:
  • Tujuan Pembelajaran, Peserta Didik, Bahan pelajaran, Fasilitas, Situasi, partisipasi, guru, dan Kebaikan dan kelemahan metode.
IV. Daftar Pustaka
Arief, Armai., 2002, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta : Ciputat Pers
Rakhmat, Jalaluddin., 2007, Belajar Cerdas: Belajar Berbasiskan Otak, Bandung: Mizan Learning Center
Ramayulis, 2005, Metodologi Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Kalam Mulia.
Robinson Situmorang, Atwi Suparman dan Rudi Susilana, 2004, Desain Pembelajaran, Jakarta : Universitas Terbuka
Sardiman, 2004, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar: Rajawali Press
Silberman, Melvin L., 2006, Active Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif, Bandung: Nusamedia dan Nuansa.
Tafsir, Ahmad., 2007, Metodelogi Pengajaran Agama Islam, Jakarta: PT Remaja Rosda Karya.
Usman, Basyiruddin., 2002, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, Jakarta : Ciputat Pers

[1] Sardiman A.M, Interaksi dan Motivasi belajarMengajar, (Jakarta: Rajawali Pres, 2004), hal. 146
[2] DR. Ahmad Tafsir, Metodelogi Pengajaran Agama Islam, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya. 2007), hal. 9.
[3] DR. Armai Arief, M.A. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hal. 109
[4] Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2005), hal.
[5] Basyiruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hal. 32
[6] Melvin. L. Silberman, Active Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif , (Bandung: Nusamedia dan Nuansa, 2006), hal. 45
[7] Basyiruddin Usman, op.cit. hal 32
[8] Robinson Situmorang, Atwi Suparman dan Rudi Susilana, Desain Pembelajaran, (Jakarta : Universitas Terbuka, 2004), hal. 6. 28
[9] Ibid., hal. 6. 28
[10] Melvin L. Silberman, op.cit, hal. 36-40.
[11] Basyiruddin Usman, op., cit, hal 33
[12] Jalaluddin Rakhmat, Belajar Cerdas: Belajar Berbasiskan Otak, (Bandung: Mizan Learning Center,2007), hal. 277-281
[13] Op.cit.,Melvin L. Silberman, hal. 42-44.

Rabu, 05 Mei 2010

Sunnah-sunnah Khutbah Jum'at

  1. Khutbah dilakukan di atas mimbar yang ditempatkan di sebelah kanan mihrab
  2. Khatib hendaknya mengucapkan salam setelah berdiri di atas mimbar
  3. Khatib hendaknya duduk sewaktu azan dikumandangkan oleh bilal
  4. Khatib hendaknya menyampaikan khutbahnya dengan suara yang baik sehingga mudah dipahami dan diambil manfaatnya oleh hadirin
  5. Khatib hendaknya tidak memperpanjang khutbahnya
  6. Khatib hendaknya mengeraskan suaranya

Syarat-syarat Khutbah Jum'at

  1. Suci dari dua hadas (keci dan besar)
  2. Suci dari najis
  3. Menutup aurat 
  4. Berdiri apabila mampu
  5. Dilakukan pada waktu dzuhur, sesudah matahari tergelincir
  6. Duduk sebentar dengan thuma'ninah (tenang) diantara dua khutbah
  7. Mengeraskan suara
  8. Khatib harus melakukan khutbah secara berturut-turut antara khutbah pertama dan khutbah kedua, dan antara dua khutbah dengan shalat jum'at
  9. Rukun-rukun khutbah harus disampaikan dengan bahasa Arab, sedangkan selain rukun khutbah boleh menggunakan bahasa daerah masing-masing.
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com