Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Mei 2010

Faktor-faktor Eksternal yang Mempengaruhi Belajar (faktor masyarakat)

Faktor Masyarakat
     Dinamika yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat bisa mendorong dan mengganggu kelancaran proses studi mahasiswa dan ini erat hubungannya dengan diri mahasiswa itu sendiri, antara lain:
1. Wilayah asal sekolah
    Keberadaan asal sekolah mahasiswa merupakan lingkungan tempat seseorang bersekolah sebelum melaksanakan kegiatan belajar di perguruan tinggi. Wilayah/ lingkungan asal sekolah seorang mahasiswa secara umum dapat diklasifikasikan menjadi dua tempat, yaitu desa dan kota.
       Bentuk kehidupan di desa dan di kota memiliki andil dalam proses belajar seseorang. Ini ditekankan oleh Slameto bahwa masyarakat menjadi faktor yang berpengaruh terhadap belajar. Pengaruh ini terjadi karena keberadaan siswa dalam masyarakat tersebut. Kegiatan siswa dalam suatu masyarakat dapat memberikan untung terhadap perkembangan pribadinya atau sebaliknya.
      Dari lingkungan asal sekolah mahasiswa yang terdiri dari desa dan kota, maka berikut perbedaan keduanya berikut masyarakat yang ada di dalamnya:

a. Masyarakat Desa
    Masyarakat pedesaan merupakan masyarakat yang berada di desa. Sedangkan Desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh jumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk di dalamnya kesatuan masyarakat hukum yang yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung di bawah camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ciri-ciri dari masyarakat pedesaaan:
     Menurut Soerjono Soekanto ciri-ciri masyarakat pedesaaan ialah sebagai berikut:
  1. Warga masyarakat pedesaan memiliki kekerabatan yang kuat, umumnya berasal dari satu keturunan.
  2. Corak kehidupan bersifat gemeinschaft, yaitu didikat oleh sistem kekeluargaan yang kuat.
  3. Masyarakat desa bersifat fellow to face group, artinya antara penduduk yang satu dan yang lainnya saling mengenal.
  4. Masyarakat pedesaan pada umumnya hidup dari sektor pertanian dan perkebunan.
  5. Sifat gotong royong masih tertanam kuat.
  6. Ketua kampung memegang peranan yang cukup penting dalam masyarakat.
  7. Masyarakat desa pada umumnya masih memegang norma agama secara kuat.
      Ahli lain mengemukakan bahwa masyarakat desa bersifat fatalisme, yaitu rendahnya wawasan pikiran masyarakat desa untuk menanggapi atau merencanakan masa depan mereka.
     Ditinjau dari segi pendidikan dan teknologi. Pendidikan tentu berpengaruh banyak pada tingkat kesejahteraan masyarakat. Masyarakat yang umumnya berpendidikan tinggi akan lebih sejahtera, sebab mereka lebih tahu bagaimana mencari jalan keluar dari masalah-masalah seputar kehidupan dengan lebih baik daripada orang-orang yang tidak berpendidikan setinggi mereka.
     Di desa, pada umumnya tingkat pendidikannya hanya sampai SMA. Adapun mereka yang berasal dari desa yang telah melanjutkan pendidikannya sampai ke universitas (sarjana), kebanyakan tidak kembali ke desanya, dan tidak mengusahakan suatu pengembangan bagi desanya.
    Kemudian dari segi teknologi, pada masyarakat pedesaan teknologi yang ada masih sangat tradisional. Semua pekerjaan dalam kehidupan masyarakat dilakukan dengan sarana dan prasarana apa adanya.
b. Masyarakat kota
    Banyak ahli mendefinisikan masyarakat kota seperti Yadi Ruyadi dalam bukunya yang berjudul Memahami Sosiologi. Ia mendefinisikan masyarakat kota sebagai kelompok penduduk yang anggotanya sangat heterogen, terdiri dari berbagai lapisan atau tingkatan masyarakat dengan tingkatan pendidikan, status sosial ekonomi, dan daerah asal atau kampung halaman yang berbeda. Lebih jelasnya ia memberikan ciri-ciri masyarakat yang tinggal di perkotaan sebagai berikut:
  1. Adanya heterogenitas sosial, yaitu masyarakat yang bertempat tinggal di daerah perkotaan sangat beraneka ragam.
  2. Sikap hidup penduduk bersifat egois dan individualistik.
  3. Hubungan sosial bersifat gesselschaft, artinya bahwa hubungan sosial ini tidak didasarkan pada sifat kekeluargaan atau gotong royong, tetapi lebih didasarkan pada hubungan fungsional.
  4. Norma-norma keagamaan tidak begitu ketat.
  5. Pandangan masyarakat kota lebih rasional dibandingkan masyarakat desa. Hal ini karena ilmu pengetahuan dan teknologi di daerah perkotaan lebih cepat diterima oleh masyarakat.
      Kemudian secara sederhana Astim Riyanto menyimpulkan ciri-ciri masyarakat kota sebagai masyarakat yang lebih menekankan pada pikiran (rasional) daripada perasaan. Lalu masyarakat kota relatif terbuka pada perubahan dan pembaharuan, baik yang dating dari dalam maupun dari luar negeri. Oleh karena itu masyarakat kota lebih dinamis dan cepat pertumbuhan dan perkembangannya.
      Ditinjau dari segi pendidikan, di kota terdapat banyak pusat pendidikan, universitas, pusat-pusat penelitian yang dapat meningkatkan pengembangan kota tersebut. Masyarakat kota pun umumnya berpendidikan tinggi (minimal SMA) dan memiliki potensi SDM yang lebih baik. Mereka dapat mengusahakan suatu bidang usaha menjadi lebih optimal hasilnya. Kemudian dari segi teknologi, pada masyarakat kota banyak dijumpai teknologi dari mulai yang rendah sampai pada teknologi yang canggih. Jenis dan jangkauan teknologinya bervariasi.
      Dari perbedaan yang telah diterangkan di atas bahwa jelaslah lingkungan kehidupan di desa berbeda dengan kehidupan di kota. Slameto mengungkapkan bahwa kehidupan masyarakat di sekitar siswa berpengaruh terhadap belajarnya. Masyarakat yang terdiri dari orang-orang yang tidak terpelajar, serta akses informasi dan teknologi yang kurang memadai di lingkungan tersebut tentu menghasilkan pribadi siswa yang bebeda dengan kondisi masyarakat yang heterogen (menerima perbedaan dan perubahan) dan dimudahkan dengan akses informasi dan teknologi yang bervariasi serta lingkungan pendidikan yang memadai.

2. Pergaulan dengan lawan jenis
    Pada prinsipnya tidak ada halangan bagi mahasiswa untuk berhubungan dan mengadakan pergulan dengan lawan jenis selama dalam batas normal. Pergaulan dengan lawan jenis sendiri dapat berdampak positif, seperti pemberian dukungan dan motivasi belajar sesama lawan jenis, tapi bisa juga sebaliknya. Pergaulan dapat menimbulkan berbagai masalah ketika terjadi ketidakharmonisan dalam hubungan. Bahkan, sampai terjadi pertengkaran dan permusuhan dan hal itu akan berdampak pada kemunduran belajar mahasiswa yang bersangkutan.

3. Bekerja sambil kuliah
    Bekerja sambil kuliah bukanlah hal yang dilarang, selama mahasiswa yang bersangkutan dapat belajar dan mencapi hasil yang baik. Bahkan bekerja dapat mendukung proses belajarnya jika sesuai dengan tujuannya dalam proses belajar.
    Bekerja sambil kuliah dapat menunjang akademik mahasiswa yang bersangkutan, jika pekerjaan yang dilakoni sesuai dengan tujuan akademiknya diperguruan tinggi. Akan tetapi tentunya tujuan dan niat mahasiswa untuk bekerja berbeda-beda. Ada mahasiswa yang bekerja dengan tujuan untuk menunjang kegiatan akademiknya, ada yang berniat untuk menambah pemasukan dan ada yang ingin meringankan beban biaya yang ditanggung oleh orang tuanya.
    Tidak hanya memberikan dampak positif, seringkali bekerja sambil belajar bisa menjadi penghambat dalam belajar. Pekerjaan/tugas di dalam bekerja yang banyak akan berdampak pada kurang fokusnya mahasiswa dalam belajar serta kelelahan pun seringkali menyerang mahasiswa yang kuliah sambil belajar dan berdampak pada kemalasan dan kejenuhan.
    Slameto mengungkapkan bahwa untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian dengan bahan yang dipelajarinya. Kemudian menurutnya juga, bahwa faktor kelelahan dapat mempengaruhi belajar seseorang. Seyogianya mahasiswa menghindari jangan sampai terjadi kelelahan.

4. Aktif berorganisasi
    Dalam proses belajar di perguruan tinggi, terutama pada masa awal perkuliahan, mahasiswa dikenalkan dan diberikan kesempatan untuk mengikuti berbagai aktivitas/kegiatan yang dapat mengembangkan kepribadiannya, bakat serta kemampuan di berbagai bidang di luar bidang akademik. Seperti mengikuti organisasi yang ada di kampus, baik intra maupun ekstra. Kemudian kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler atau yang dikenal dengan UKM (unit kegiatan mahasiswa) yang dapat berbentuk kegiatan pada seni, olahraga, pengembangan kepribadian dan kegiatan lain yang bertujuan positif untuk kemajuan mahasiswa tersebut.
    Organisasi mahasiswa adalah organisasi yang beranggotakan mahasiswa. Organisasi ini dapat berupa organisasi kemahasiswaan intra kampus, organisasi kemahasiswaan ekstra kampus, maupun semacam ikatan mahasiswa kedaerahan yang pada umumnya beranggotakan lintas-kampus.
    Aktif berorganisasi dapat membantu perkembangan individu mahasiswa menjadi lebih baik, karena banyak pelajaran/hal penting yang dapat mahasiswa dapatkan jika aktif dalam berorganisasi. Akan tetapi terlalu banyak berorganisasi dan melakukan berbagai kegiatan baik di kampus atau di masyarakat terkadang memberikan keasyikan tersendiri, sehingga mahasiswa yang bersangkutan lupa akan tujuan utamanya, yaitu belajar. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya absen kuliah dan tidak mengerjakan tugas yang diberikan dosen karena berorganisasi tentu hal tersebut memperburuk prestasinya dalam belajar.
    Oemar Hamalik mengungkapkan bahwa terlalu banyak berorganisasi adalah kurang baik dalam arti akan menyebabkan kelalaian dalam belajar dalam hal ini keaktifan berorganisasi menjadi penghambat bagi studi mahasiswa.
    Selama mahasiswa dapat mengatur waktu dengan baik serta dapat menyeimbangkan dan mengetahui hal yang prioritas dan tidak, tentu berorganisasi dapat menjadi salah satu faktor penunjang dalam mencapai prestasi belajar.

5. Lingkungan belajar yang kurang mendukung.
    Lingkungan belajar yang mendukung dan kondusif, seperti masyarakat yang baik serta kawan-kawan yang saling memotivasi dalam belajar akan berdampak pada proses belajar yang baik pula. Dan sebaliknya, lingkungan yang tidak kondusif seperti gaduh, kacau dan banyak maksiat, akan mengganggu konsentrasi belajar.
    Lingkungan belajar erat kaitannya dengan kediamanan/domisili mahasiswa ketika melaksanakan proses kegiatan belajar di perguruan tinggi. Secara umum mahasiswa banyak yang memilih kost sebagai tempat kediamanannya selama belajar di perguruan tinggi, tetapi ada juga yang memilih untuk tinggal bersama kedua orang tuanya atau sanak keluarganya.
    Kost sebagai tempat tinggal merupakan pilihan bagi banyak mahasiswa yang berasal dari daerah. Kost sendiri biasanya tidak terlalu jauh dari perguruan tinggi tempat mahasiswa belajar. Dan kost pun berfungsi sebagai tempat singgah dan belajar bagi seorang mahasiswa.
     Ketika mahasiswa memilih untuk mengekost itu berarti mahasiswa memulai kehidupannya untuk mandiri. Di sini mahasiswa dituntut untuk memenuhi dan melaksanakan kehidupannya dengan sendiri dan tanpa bantuan orang tuanya secara fisik. Kehidupan mahasiswa yang kost penuh dengan dinamika, terutama pada awal kuliah, mahasiswa kost dituntut untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Adaptasi ini dengan cara mengenal baik kondisi lingkungan di sekitarnya. Kondisi lingkungan kost hendaknya tenang dan jauh dari rangsangan-rangsangan pengganggu yang merusak konsentrasi belajar.
    Kemudian mahasiswa kost dituntut untuk memenuhi kebutuhannya dengan sendiri, seperti memasak, mencuci, bersih-bersih dan merencanakan segala sesuatu seperti perencanaan keuangan, belajar serta penyediaan alat-alat belajar dan lain-lain. Kehidupan mahasiswa kost yang penuh dengan keterbatasan dan dinamika akan banyak mengganggu konsentrasi mahasiswa dalam proses belajarnya di perguruan tinggi dan berlanjut pada pencapaian prestasi yang kurang memuaskan.
    Menurut Slameto Konsentrasi besar pengaruhnya terhadap belajar. Jika seseorang yang mengalami kesulitan berkonsentarasi, jelas belajarnya akan sia-sia, karena hanya membuang tenaga, waktu dan sia-sia. Seseorang yang sering mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi dikarenakan keadaan lingkungan (bising, semerawut, cuaca buruk dan lain-lain), pikiran kacau dengan banyak urusan dan masalah-masalah.
    Berbeda halnya dengan kehidupan mahasiswa yang memilih tinggal bersama kedua orang tuanya dan sanak keluargannya. Mahasiswa yang dalam hal ini tinggal bersama dengan orang tuanya akan lebih ringan kehidupannya, karena mahasiswa yang bersangkutan tidak harus mengurusi hal-hal seperti mencuci, memasak dan bersih-bersih, dalam artian mahasiswa mendapatkan dukungan keluarga secara fisik, sehingga yang bersangkutan lebih dapat konsentrasi dengan belajarnya. Kemudian mahasiswa yang tinggal bersama orang tua tidak perlu khawatir jika membutuhkan biaya-biaya tak terduga dalam kegiatan belajarnya di perguruan tinggi.

Sabtu, 22 Mei 2010

Faktor-Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Belajar (faktor sekolah)

Faktor sekolah
Faktor sekolah merupakan faktor yang turut andil dalam membantu proses belajar individu. Perguruan tinggi sebagai tempat belajar mahasiswa dapat membantu proses belajar mereka atau sebaliknya. Adapun penunjang akademik yang mempengaruhi proses belajar mahasiswa seperti tenaga pengajar, fasilitas dan media belajar, dan penyelenggaraan perkuliahan yang padat.
1. Peranan tenaga pengajar
   Dalam kegiatan perkuliahan, tenaga pengajar/dosen memiliki peran penting dalam membantu proses belajar mahasiswanya. Dosen sendiri adalah tenaga kependidikan yang memiliki kompetensi kependidikan yang berkewajiban membawa mahasiswa ke arah tujuan pendidikan nasional.
   Dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi, dosen tidak hanya berperan sebagai pengajar (yang menyampaikan perangkat ilmu pengetahuan kepada para mahasiswa), tetapi juga sekaligus bertindak sebagai pembimbing, yaitu sebagai wali yang membantu mahasiswa mengatasi kesulitan dalam studinya, pribadinya dan pemecahan berbagai masalah lainnya.
   Dalam hal ini, dosen yang tidak mengetahui fungsi dan tanggung jawabnya sebagai tenaga profesional akan bertindak semaunya dan tentunya proses belajar-mengajar yang tidak sehat akan terbentuk.
2. Fasilitas dan media belajar
   Fasilitas seringkali menjadi penghambat dalam proses belajar, fasilitas yang kurang memadai dan tidak/kurang menunjang proses belajar mengajar akan mengurangi minat individu untuk belajar. Fasilitas disini, khususnya untuk kegiatan perkuliahan seperti ruangan belajar yang nyaman, bangku dan meja, perpustakaan serta ruang praktikum, tempat ibadah dan kamar kecil tersedia dengan baik.
   Media belajar seperti buku-buku dan bahan cetakan yang disediakan di perpustakaan tersusun dengan baik dan selalu diperbaharui dan ini kan memberikan semangat kepada mahasiswa untuk selalu belajar.
3. Penyelenggaraan perkuliahan yang padat.
    Banyaknya mata kuliah yang terkumpul pada berapa hari menyebabkan adanya kegiatan kuliah siang dan pagi hari. Keadaan semacam ini besar pengaruhnya terhadap kegiatan studi mahasiswa. Perkuliahan yang seperti ini akan menyebabkan kurangnya konsentrasi, melelahkan, bahkan juga dapat mengganggu kesehatan mahasiswa bersangkutan.
4. Status asal sekolah mahasiswa
    Berkaitan dengan tempat belajar/sekolah, dalam proses belajar di perguruan tinggi, terutama pada semester awal kuliah. Latar belakang status asal sekolah dapat mempengaruhi proses belajar mahasiswa. Pengalaman dan pengetahuan yang mereka dapatkan sebelum memasuki perguruan tinggi dapat membantu proses belajar mereka. Hal ini pun diungkapkan oleh Oemar Hamalik, bahwa perilaku awal (entry behavior) seperti, bakat, pengalaman, minat dan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya turut menentukan hasil belajar seorang siswa.
    Status asal sekolah merupakan keadaan asal sekolah individu yang belajar. Keadaan asal sekolah individu yang belajar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu individu yang berstatus asal sekolah negeri dan individu yang berstatus sekolah swasta.
    Sekolah negeri merupakan sekolah yang masih mendominasi dunia pendidikan Indonesia. Sekolah umum dikatakan negeri karena dimiliki dan dikelola oleh pemerintah. Sekolah ini mendapatkan subsidi (bantuan) sepenuhnya dari pemerintah. Sehingga segala sarana dan prasarana penunjang kegiatan belajar dipenuhi oleh pemerintah.
Sekolah swasta merupakan sekolah yang dirintis oleh masyarakat atau personal tertentu, sehingga segala sarana dan prasarana kegiatan belajar disesuaikan dengan kemampuan perintis atau personal tertentu.
    Perbedaan dari keduanya adalah kepemiliikannya, oleh karena itu secara umum biaya di sekolah swasta sedikit mahal, karena sekolah swasta tidak mendapatkan subsidi dari pemerintah. Pendapatan mereka berasal dari uang yang dibayarkan siswa-siswa.
    Adapun perbedaan lainnya yang mengambarkan kedua status asal sekolah tersebut, seperti:
1. Sekolah Negeri
  • Secara umum memperoleh input siswa dengan prestasi hasil ujian pada jenjang pendidikan sebelumnya lebih baik dan rata-rata siswa memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi terutama karena faktor lingkungan.
  • Secara umum kondisi sosial ekonomi dan akademik maupun fasilitas belajar dari orang tua relatif lebih baik.
  • Keberadaan tenaga kependidikan rata-rata lebih stabil dan tingkat kompetensi maupun kesejahteraan yang lebih baik.
  • Fasilitas pembelajaran relatif lebih baik dan lebih berkembang
2. Sekolah Swasta
  • Input siswa dengan nilai rata-rata ujian akhir maupun prestasi berada di bawah siswa yang masuk sekolah negeri maupun swasta tertentu itupun untuk memperoleh siswa sesuai dengan daya tampung, kondisi sekarang cukup berat.
  • Secara umum daya dukung sosial ekonomi, akademik dan fasilitas belajar dari orang tua kurang memadai.
  • Fasilitas pembelajaran di sekolah juga kurang memadai, bahkan bisa dikatakan kurang layak.
  • Keberadaan tenaga pendidikan baik dari segi kompetensi, stabilitas, kesejahteraan masih cukup memprihatinkan.
          Sekolah negeri dan swasta sendiri dapat diklasifikasi lagi, bahwa ada sekolah beragama dan sekolah umum. Sekolah agama sendiri merupakan sekolah yang memprioritaskan pengetahuan agama yang harus dimiliki siswanya lebih dalam, ini terlihat dari intensitas pelajaran agama yang dimiliki sekolah negeri atau swasta lebih banyak ketimbang sekolah umum. Kemudian siswa yang belajar di dalamnya memiliki status agama yang sama.
         Dan sekolah umum sendiri merupakan sekolah yang tidak memperioritaskan pelajaran agama ini terlihat dari intensitas pelajaran agamanya lebih sedikit daripada sekolah agama. Dalam sekolah umum ini dapat dijumpai siswa dengan latar agama yang berbeda.
         Dari kedua hal perbedaan di atas maka ditengarai terdapat perbedaan prestasi akademik tingkat pertama antara mahasiswa yang berstatus asal sekolah swasta dengan mahasiswa yang berstatus sekolah negeri.

Faktor-Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Belajar (faktor keluarga)

              Menurut Slameto faktor eksternal yang mempengaruhi belajar dibagi menjadi tiga, yaitu: faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat.
Faktor keluarga
    Keluarga berperan penting dalam proses belajar seseorang, dalam artian pengaruh keluarga sangatlah besar terhadap pencapaian keberhasilan seseorang di dalam suatu studi. Antara lain faktor yang dapat mempengaruhi belajar seseorang yang timbul dari keluarga seperti berikut ini:
       (1) Cara orang tua mendidik
             Cara orang tua mendidik anaknya besar pengaruhnya terhadap belajar anaknya. Orang tua yang kurang memperhatikan pendiidkan anaknya, misalnya acuh tak acuh terhadap belajar anaknya, tidak memperhatikan sama sekali akan kepentingan-kepentingan dan kebutuhan-kebutuhan anaknya dalam belajar, tidak mau tahu kemajuan-kemajuan anaknya dalam belajar, kesulitan kesulitan yang ia alami dalam belajar dan lain-lain dapat menyebabkan anak tidak/kurang berhasil dalam belajarnya.
         (2) Suasana rumah
              Suasana rumah yang gaduh/ramai dan semrawut tidak akan memberi ketenangan kepada mahasiswa untuk belajar dengan baik. Suasana rumah yang tegang, ribut dan sering terjadi cekcok dan pertengkaran antara penghuni anggota keluarga atau dengan keluarga lain menyebabkan anak suka keluar rumah yang akibatnya belajarnya menjadi kacau.
              Perselisihan, pertengkaran, percekcokkan, tidak ada tanggung jawab bersama antar kedua orang tua akan menimbulkan keadaan yang tidak diinginkan terhadap diri mahasiswa. Hal semacam ini membuat pikiran mahasiswa tidak mempunyai pendirian dan konsentrasi belajar.
Mahasiswa yang sedang dalam proses studi memerlukan suasana rumah yang nyaman dan kondusif untuk studinya. Dan suasana yang nyaman di rumah seperti rumah yang jauh dari suara-suara bising, keramaian, pertengkaran dan lain-lain yang bisa memecahkan konsentrasi belajar mahasiswa.
        (3) Pengertian orang tua
             Anak belajar perlu dorongan dan pengertian orang tua. Bila anak sedang belajar jangan diganggu dengan tugas-tugas di rumah, Kadang-kadang anak mengalami lemah semangat, orang tua wajib memberi pengertian dan mendorongnya, membantu sedapat mungkin kesulitan anak yang dialami di sekolah.
             Pengertian yang diberikan keluarga terutama orang tua besar sekali peranannya dalam proses studi mahasiswa. Mahasiswa yang sedang dalam proses studi atau pun mereka yang baru memasuki kehidupan belajar di kampus terkadang lemah semangat karena sulitnya memahami dan mempelajari materi-materi kuliah serta banyaknya tugas-tugas kuliah yang diberikan dosen. Tentu pengertian orang tua dan motivasinya amat membantu dan mengurangi beban dan kesulitan yang dialaminya.
        (4) Keadaan ekonomi keluarga
             Keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya dengan belajar anak, anak yang sedang belajar selalu harus terpenuhi kebutuhan pokoknya, misalnya makan, pakaian, perlindungan kesehatan dan lain-lain, juga membutuhkan fasilitas belajar, meja, kursi, penerangan, alat menulis, buku-buku dan lain-lain.
Faktor ekonomi seringkali menjadi ganjalan dalam melaksanakan proses belajar, sehingga ekonomi keluarga yang pas-pasan membuat diri mahasiswa untuk membantu bekerja meningkatkan ekonomi keluarga, tentu bekerja sambil belajar akan banyak menguras tenaga dan pikiran dan dapat berakibat pada kelelahan sehingga fokus belajar pun terpecah dan hasilnya pun kurang baik. Allahu A'lam

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar (Faktor-Internal)


Belajar dalam meraih prestasi terbaik di perguruan tinggi tidaklah mudah, akan tetapi tidak pula dapat dikatan sulit, sehingga semua orang memiliki kesempatan  meraih prestasi terbaiknya. Hanya saja setiap seseorang yang berkecimpung di dalam kegiatan belajar akan menghadapi hambatan dan penghalang yang dapat mempengaruhi dan mengalihkan perhatian dari kegiatan belajarnya, lalu akan berimbas pada perolehan prestasi akademiknya.
Ada dua faktor yang menjadi penghambat keberhasilan studi, yaitu:
1.      Faktor Internal, merupakan penghambat yang berasal dari dalam diri mahasiswa itu sendiri. Menurut Slameto faktor intern ini terdiri dari tiga faktor, yaitu: faktor jasmaniah, faktor psikologis dan faktor kelelahan.
a.       Faktor Jasmaniah
1)   Faktor kesehatan
Proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatannya terganggu atau kurang baik, selain itu juga ia akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, ngantuk jika badannya lemas, kurang darah ataupun ada gangguan-gangguan/ kelainan-kelainan fungsi alat inderanya serta tubuhnya.
2)   Cacat tubuh
Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan  kurang baik atau kurang sempurna mengenai tubuh. Cacat disini dapat berupa buta, setengah buta, tuli, setengah tuli, patah kaki, patah tangan, lumpuh dan lain-lain.
Keadaan tubuh yang cacat tubuh juga mempengaruhi belajar. Siswa yang cacat belajarnya juga terganggu.
b.      Faktor Psikologis
Ada tujuh faktor yang yang termasuk dalam faktor psikologis yang mempengaruhi belajar, seperti: inteligensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan.
1)   Inteligensi
Inteligensi adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi baru dengan cepat dan efektif, mengetahui dan menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat.
Inteligensi besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar. Dalam situasi yang sama, seseorang yang memiliki inteligensi yang tinggi akan berhasil daripada yang memiliki inteligensi rendah.
2)      Perhatian
“Perhatian adalah pemusatan energi psikis yang tertuju kepada sesuatu objek pelajaran atau dapat dikatakan sebagai sedikit banyaknya kesadaran yang menyertai aktivitas belajar”
Untuk menjamin hasil belajar yang baik, maka seorang mahasiswa harus memiki perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya, jika bahan pelajaran tidak menjadi perhatiannya maka timbullah kebosanan sehingga ia tidak lagi suka belajar.
3)      Minat
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa senang. Jadi berbeda dengan perhatian, karena perhatian sifatnya sementara dan belum tentu diikuti dengan perasaan senang, sedangkan minat didikuti dengan perasaan senang dan dari situ diperoleh kepuasan.

Minat besar pengaruhnya terhadapa belajar, karena bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat mahasiswa. Mahasiswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya karena tidak ada daya tarik baginya.
1)      Bakat
Bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu baru akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih.
Bakat mempengaruhi belajar. Bahan pelajaran/mata kuliah yang diambil sesuai dengan bakatnya maka hasilnya mahasiswa yang bersangkutan akan senang belajar dan giat dalam meraih prestasinya.
2)      Motif
Motif erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai. Untuk mencapai tujuan itu perlu berbuat sedangkan yang menjadi penyebab berbuat adalah motif sendiri sebagai daya penggerak dan pendorong.
Dalam proses belajar haruslah diperhatikan apa yang dapat menjadi motif seorang mahasiswa sehinga memiliki perhatian dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang menunjang belajar.
3)      Kematangan
Kematangan adalah suatu tingkat/fase dalam pertumbuhan seseorang. Belajar akan lebih berhasil jika anak sudah siap (matang).
4)      Kesiapan
Kesiapan adalah kesediaan untuk memberi response atau bereaksi. Kesediaan itu timbul dari dalam diri seseorang dan juga berhubungan dengan kematangan, karena kematangan berarti kesiapan untuk melaksanakan kecakapan. Kesiapan ini perlu diperhatikan dalam proses belajar. Karena jika siswa belajar dan padanya sudah ada kesiapan, maka hasil belajarnya akan lebih baik.
a.       Faktor Kelelahan
Kelelahan pada seseorang walaupun sulit untuk dipisahkan tetapi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani.
Kelelahan jasmani ditandai dengan lemah lunglainya tubuh dan timbul kecenderungan untuk membaringkan tubuh. Kelelahan jasmani terjadi karena kekacauan substansi sisa pembakaran di dalam tubuh, sehingga darah kurang lancar pada bagian tertentu.
Kelelahan rohani dapat terlihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang. Kelelahan ini sangat terasa pada bagian kepala dengan pusing-pusing sehingga sulit berkonsentrasi, seolah otak kehabisan daya untuk bekerja.
Dari uraian ini maka dapatlah dimengerti bahwa kelelahan mempengaruhi belajar. Agar siswa dapat belajar dengan baik maka perlu diusahan agar kondisi tubuh bebas dari kelelahan.

Kamis, 06 Mei 2010

Pengertian & Konsepsi Masyarakat Madani


Kata Madani berasal dari bahasa Arab, dari akar kata مدن yang bermakna ‘membangun kota, membudayakan’, atau ‘memanusiakan. Dari akar kata tersebut dapat diturunkan pula kata تمدن yang bermakna ‘peradaban’. Ungkapan masyarakat madani dapat diberi makna masyarakat yang beradab, masyarakat yang berperadaban, atau masyarakat yang berbudaya, yang di dalamnya manusia benar-benar diperlakukan sebagai manusia.
Konsepsi masyarakat madani yang didambakan itu dapat digambarkan sebagai berikut
1. Masyarakat madani adalah masyarakat yang berperadaban, yang di dalamnya terdapat ukuran-ukuran normatif dalam kehidupan yang digunakan untuk menilai sesuatu itu baik atau tidak baik. Jadi, ukuran baik tidak baik itu ditentukan oleh (kepentingan) diri sendiri.
2. Hubungan sesama manusia dalam masyarakat madani adalah hubungan horizontal. Hubungan vertikal hanya diperlihatkan oleh hubungan antara makhluk dan Tuhan.
3. Hak asasi manusia dalam masyarakat madani dihormati dan dihargai dalam rangka menghormati hak-hak orang lain, bukan dalan rangka memperjuangkan hak-hak pribadi.
4. Kekuasaan masyarakat madani terletak pada rakyat , bukan penguasa. Kebenaran yang diperjuangkan dalam masyarakat madani pun bukan kebenaran penguasa, melainkan kebenaran yang obyektif. Dengan demikian, hukum harus ditegakkan. Dalam pada itu, pihak mana pun yang menggunakan kekuatan untuk memaksakan kehendaknya tidaklah dibenarkan (sumber kompas)

Teknik-teknik Mendapatkan Umpan Balik (pembelajaran)

I. Pendahuluan
Suatu realita sehari-hari, di dalam suatu ruang kelas ketika sesi Kegiatan belajar-mengajar (KBM) berlangsung, nampak beberapa atau sebagian besar siswa belum belajar sewaktu guru mengajar. Sebagian besar siswa belum mampu mencapai kompetensi individual yang diperlukan untuk mengikuti pelajaran lanjutan. Juga, beberapa siswa belum belajar sampai pada tingkat pemahaman. Siswa baru mampu mempelajari (baca: menghafal) fakta, konsep, prinsip, hukum, teori, dan gagasan inovatif lainnya pada tingkat ingatan, mereka belum dapat menggunakan dan menerapkannya secara efektif dalam pemecahan masalah sehari-hari yang kontekstual. Ini terjadi karena, guru belum optimal memberdayakan ‘tambang emas’ potensi masing-masing siswa yang sering kali tersembunyi.
Kalau masalah ini dibiarkan dan berlanjut terus, lulusan sebagai generasi penerus bangsa akan sulit bersaing dengan lulusan dari negara-negara lain. Lulusan yang diperlukan tidak sekedar yang mampu mengingat dan memahami informasi tetapi juga yang mampu menerapkannya secara kontekstual melalui beragam kompetensi. Di era pembangunan yang berbasis ekonomi dan globalisasi sekarang ini diperlukan pengetahuan dan keanekaragaman keterampilan agar siswa mampu memberdayakan dirinya untuk menemukan, menafsirkan, menilai dan menggunakan informasi, serta melahirkan gagasan kreatif untuk menentukan sikap dalam pengambilan keputusan
Inti dari paparan materi ini adalah untuk mengembangkan kompetensi peserta didik secara optimal sesuai dengan potensi dan kebutuhan peserta didik, keadaan sekolah dan tuntutan kehidupan di masa depan. Informasi yang disajikan diharapkan dapat membantu guru untuk mengembangkan gagasan tentang penyediaan strategi mengajar yang mengacu pada pencapaian kompetensi individual masing-masing peserta didik. Kegiatan Belajar-Mengajar adalah suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang memadukan secara sistematis dan berkesinambungan kegiatan pendidikan di dalam lingkungan sekolah dengan kegiatan pendidikan yang dilakukan di luar lingkungan sekolah dalam wujud penyediaan beragam pengalaman belajar untuk semua peserta didik. Ini berarti, diversifikasi kurikulum tidak terbatas pada diversifikasi materi, tetapi juga terjadi pada diversifikasi pengalaman belajar, diversifikasi tempat dan waktu belajar, diversifikasi alat belajar, diversifikasi bentuk organisasi kelas, dan diversifikasi cara penilaian.
Pandangan ini memberikan dampak pada penyelenggaraan KBM. Bila selama ini KBM hanya ditandai kegiatan satu arah penuangan informasi dari guru ke siswa dan hanya dilaksanakan dan berlangsung di sekolah maka KBM dengan nuansa Kurikulum Berbasis Kompetensi diindikasikan dengan keterlibatan siswa secara aktif dalam membangun gagasan/ pengetahuan oleh masing-masing individu dan lazimnya dapat diselenggarakan di beberapa lokasi seperti di kelas, di lingkungan sekolah, di perpustakaan, di laboratorium, di pasar, di toko, di pantai, di tempat rekreasi, di kebun binatang, atau di tempat-tempat lain. Bila dibuat suatu ilustrasi tentang siswa, kegiatan belajar-mengajar (KBM), lulusan, kurikulum, dan lingkungan dalam sebuah sistem. (Brooks, J.G. & Brooks, M.G. 1993: 9-12) .
Pada permasalahan ini ada salah satu teknik yang mendukung yaitu umpan balik yang mana umpan balik ini akan saya bahas, bagaiman teknik-teknik mendapatkan umpan balik, diantaranya dengan memancing apersepsi anak didik, memanfaatkan teknik alat bantu akseptabel, memilih bentuk motivasi yang akurat dan menggunakan metode yang bervariasi.
II. Pembahasan
Pola umum terjadinya interaksi belajar mengajar adalah terjadinya interaksi antara tiga unsur, yaitu: guru, bahan dan anak didik. Bahan sebagai isi dari proses belajar mengajar disampaikan guru untuk diterima oleh anak didik. Bahan di sini sebagai perantara untuk terjadinya interaksi belajar mengajar antara guru dengan anak didik. Itu berarti tanpa bahan tidak akan terjadi interaksi belajar mengajar.
Dalam kegiatan pengajaran tidak lain yang harus guru capai, kecuali bagaimana anak didik dapat menguasai bahan pelajaran secara tuntas (mastery). Masalh ini tetap aktual untuk dibicarakan dari dulu hingga sekarang. Sebab bagaimana pun juga keberhasilan pengajaran ditentukan sampai sejauh mana penguasaan anak didik terhadap bahan pelajaran yang disampaikan oleh guru. Untuk sampai ke sana, yaitu anak didik dapat menguasai semua bahan yang diberikan, tidak gampang; karena hal ini akan terpulang pada masalah bagaimana umpan balik yang diberikan oleh anak didik selama pengajaran berlangsung .
Untuk mendapatkan umpan balik dari anak didik diperlukan beberapa teknik yang sesuai dan tepat dengan diri setiap anak didik sebagai makhluk individual, teknik-teknik tersebut antara lain:
A. Memancing Apersepsi Anak Didik
Anak didik adalah orang yang memiliki kepribadian dengan ciri-ciri yang khas sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhannya. Perkembangan dan pertumbuhan anak didik mempengaruhi sikap dan tingkah lakunya. Perkembangan dan pertumbuhan anak itu sendiri dipengaruhi oleh lingkungan kehidupan sosial masyarakatnya sehingga sikap, perilaku dan pandangan hidup anak dipengaruhi oleh lingkungan yang membentuknya. Contohnya perbedaan pengetahuan yang dimiliki oleh anak yang hidupnya di kota dengan anak yang hidupnya di desa.
Latar belakang kehidupan sosial anak penting untuk diketahui oleh guru. Sebab dengan mengetahui dari mana anak bersal, dapat membantu guru untuk memahami jiwa anak. Pengalaman apa yang dipunyai anak adalah hal yang sangat membantu untuk memancing perhatian anak Anak biasanya senang membicarakan hal-hal yang menjadi kesenangannya.
Dalam mengajar, pada saat yang tepat, guru dapat memanfaatkan hal-hal yang menjadi kesenangan anak untik diselipkan dalam melengkapi isi dari bahan pelajaran yang disampaikan. Tentu saja pemanfaatannya tidak sembarangan, tetapi harus sesuai dengan bahan pelajaran. Pendekatan realisasi ini dirasakan memudahkan pengertian dan pemahaman anak didik terhadap bahan pelajaran yang yang disajikan.
Pengalaman anak mengenai bahan pelajaran yang telah diberikan merupakan bahan apersepsi yang dipunyai oleh anak. Pengalaman atau pengetahuan anak tersebut dapat dimanfaatkan untuk memancing perhatian anak terhadap bahan pelajaran yang akan diberikan, sehingga anak terpancing untuk memperhatikan penjelasan guru. Dengan demikian, usaha guru menghubungkan pengetahuan yang telah dimiliki anak didik dengan pengetahuan yang masih relevan yang akan diberikan, merupakan teknik untuk mendapatkan umpan balik dari anak didik dalam pengajaran.
Bahan apersepsi sangat membantu anak didik dalam usaha mengolah kesan-kesan dari bahan pelajaran yang diberikan oleh guru.
B. Memanfaatkan Taktik Alat Bantu yang Akseptabel
Bahan pelajaran adalah isi yang disampaikan oleh guru dalam proses belajar mengajar. Bahan yang akan disampaikan oleh guru itu bermacam-macam sifatnya, mulai dari yang mudah, sedang, sampai ke yang sukar. Tinjauan mengenai sifat bahan ini dikarenakan dalam setiap kali proses belajar mengajar berlangsung ada di antara anak didik yang kurang mampu memproses / mengolah bahan dengan baik, sehingga pengertian pun sukar didapatkan. Inteligensi adalah faktor lain yang menyebabkannya. Sukar dipahaminya penjelasan guru juga menjadi faktor penyebabnya .
Guru yang menyadari kelemahan dirinya untuk menjelaskan isi dari bahan pelajaran yang disampaikan sebaiknya memanfaatkan alat bantu untuk membantu memperjelas isi dari bahan. Dalam dunia pengajaran dan pembelajaran, alat bantu yang dimaksud biasanya disebut media dalm pembelajaran itu sendiri. Media berasal dari kata latin yang merupakan bentuk jamak dari kata medium yang berarti perantara. Jadi secara harfiah media diartikan sebagai perantara atau pengantar pesan. Dalam bidang pendidikan, Association for educational Communications and Technology (AECT, 1977), yaitu suatu asosiasi yang bergerak dalam bidang teknologi komunikasi edan pendidikan, mendefinisikan media sebagai segala bentuk yan digunakan untuk menyalurkan informasi .
Telah disinggung di atas bahwa penggunaan alat bantu/ media untuk memperjelas bahan pelajaran. Adapun tujuan lain yang tak kalah penting di dalm penggunaan alat bantu ini adalah:
1. Memperbesar benda yang sangat kecil dan tidak tampak oleh mata menjadi lebih besar
2. Menyajikan benda atau peristiwa yang jauh kehadapan peserta
3. Menyajikan peristiwa yang kompleks, rumit, berlangsung dengan cepat atau amat lambat menjadi lebih sistematis dan sederhana.
4. Menampung sejumlah besar peserta untuk mempelajari materi pelajaran dalam waktu yang sama
5. Menyajikan benda atau peristiwa berbahaya kehadapan siswa
6. Meningkatkan daya tarik pelajaran dan perhatian siswa
7. Meningkatkan sistematika pengajaran
Adapun manfaat dari penggunaan alat bantu/ media dalam pembelajaran adalah:
1. Untuk memperlancar interaksi antara guru dan siswa
2. Proses belajar menjadi lebih menarik
3. Proses belajar siswa menjadi lebih interaktif
4. Jumlah waktu mengajar dapat dikurangi
5. Meningkatkan kualitas belajar siswa
6. Proses pembelajaran dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja
7. Menimbulkan sikap positif siswa terhadap proses pembelajaran
Menurut Basyiruddin Usman, media dapat digolongkan menjadi 8 kategori, yaitu:
a. Realthing, dapat berupa manusia (guru) itu sendiri, benda sesungguhnya dan peristiwa yang terjadi.. Pengajar adalah media utama dalam proses belajar-mengajar dan merupakan motivator atau fasilitas bagi siswa untuk mengoptimalkan kegiatan belajar.
b. Verbal refresentation; berupa media tulis/cetak, buku teks dan sebagainya.
c. Grafic Representation; berupa chart, diagram, gambar atau lukisan
d. Still Picture; seperti foto, slide, film strif, dan media visual lainnya.
e. Motion Picture; film, televisi, video, tape dan lainnya
f. Audio Recording; pita kaset, real tape, piringan hitam, sound track dan sebagainya
g. Simulation; berupa permainan yang menirukan kejadian yang sebenarnya, sebagai contoh simulasi perang-perangan dan lainnya .
Alat bantu yang akseptabel dapat dimanfaatkan sebagai taktik yang jitu untuk meningkatkan perhatian anak didik terhadap bahan pelajaran yang disampaikan oleh guru. Umpan balik pun terjadi seiring dengan proses belajar anak didik yang berkelanjutan.
C. Memilih Bentuk Motivasi yang Akurat
Proses belajar mengajar adalah suatu proses yang dengan sengaja diciptakan untuk kepentingan anak didik. Agar anak didik senang dan bergairah belajar, guru berusaha menyediakan lingkungan belajar yang kondusif dengan memanfaatkan semua potensi kelas yang ada.
Motivasi merupakan faktor yang mempunyai arti penting bagi seoranga anak didik. Apalah artinya anak didik pergi ke sekolah tanpa motivasi untuk belajar. Dalam usaha untuk membangkitkan gairah belajar anak didik, ada enam hal yang dapat dikerjakan oleh guru, yaitu:
1. Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar
2. Menjelaskan secara konkret kepada anak didik apa yang dapat dilakukan pada akhir pengajaran
3. Memberikan ganjaran terhadap prestasi yang dicapai anak didik sehingga dapat merangsang untuk mendapat prestasi yang lebih baik dikemudian hari
4. Membentuk kebiasaan belajar ang baik
5. Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok
6. Menggunakan metode yang bervariasi
Kemudian ada beberapa bentuk motivasi yang dapat guru gunakan guna mempertahankan minat anak didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan, yaitu :
a. Memberi Angka; Angka dimaksud sebagai simbol atau nilai dari hasil aktivitas belajar anak didik.
b. Hadiah; Sesuatu yang diberikan kepada orang lain sebagai penghargaan/ cinderamata
c. Pujian; alat motivasi yang positif
d. Gerakan tubuh; bentuk mimik yang cerah, dengan senyum, mengangguk,acungan jempol, tepuk tangan, memberi salam, menaikkan bahu, menggelengkan kepala, menaikkan tangan dan lain-lain
e. Memberi Tugas; suatu pekerjaan yang menuntut pelaksanaan untuk diselesaikan
f. Memberi Ulangan; Salah satu strategi yang penting dalam pengajaran
g. Mengetahui Hasil
h. Hukuman
Peserta didik akan aktif dalam kegiatan belajarnya bila ada motivasi, baik itu motivasi ekstrinsik maupun instrinsik. Beberapa hal yang dapat merangsang tumbuhnya motivasi belajar aktif pada diri peserta didik, antara lain :
a. Penampilan guru yang hangat dan menumbuhkan partisipasi positif
Sikap guru tampil hangat, bersemangat, penuh percaya diri dan antusias, serta dimulai dan pola pandang bahwa peserta didik adalah manusia-manusia cerdas berpotensi, merupakan faktor penting yang akan meningkatkan partisipasi aktif peserta didik. Segala bentuk penampilan guru akan membias mewarnai sikap para peserta didiknya. Bila tampilan guru sudah tidak bersemangat maka jangan harap akan tumbuh sikap aktif pada diri peserta didik. Karena itu hendaknya seorang guru dapat selalu menunjukkan keseriusannya terhadap pelaksanaan proses, serta dapat meyakinkan bahwa materi pelajaran serta kegiatan yang dilakukan merupakan hal yang sangat penting bagi peserta didik, sehingga akan tumbuh minat yang kuat pada diri para peserta didik yang bersangkutan.
b. Peserta didik mengetahui maksud dan tujuan pembelajaran
Bila peserta didik telah mengetahui tujuan dari pembelajaran yang sedang mereka ikuti, maka mereka akan terdorong untuk melaksanakan kegiatan tersebut secara aktif. Oleh karena itu pada setiap awal kegiatan guru berkewajiban memberi penjelasan kepada peserta didik tentang apa dan untuk apa materi pelajaran itu harus mereka pelajari serta apa keuntungan yang akan mereka peroleh. Selain itu hendaknya guru tidak lupa untuk mengadakan kesepakatan bersama dengan para peserta didiknya mengenai tata tertib belajar yang berlaku agar kegiatan pembelajaran dapat berlangsung lebih efektif.
c. Tersedia fasilitas, sumber belajar, dan lingkungan yang mendukung
Bila di dalam kegiatan pembelajaran telah tersedia fasilitas dan sumber belajar yang “menarik” dan “cukup” untuk mendukung kelancaran kegiatan belajar mengajar maka hal itu juga akan menumbuhkan semangat belajar peserta didik. Begitu pula halnya dengan faktor situasi dan kondisi lingkungan yang juga penting untuk diperhatikan, jangan sampai faktor itu memperlunak semangat dan keaktifan peserta didik dalam mengikuti kegiatan belajar.
d. Adanya prinsip pengakuan penuh atas pribadi setiap peserta didik
Agar kesadaran akan potensi, eksistensi, dan percaya diri pada diri peserta didik dapat terus tumbuh, maka guru berkewajiban menjaga situasi interaksi agar dapat berlangsung dengan berlandaskan prinsip pengakuan atas pribadi setiap individu. Sehingga kemampuan individu, pendapat atau gagasan, maupun keberadaannya perlu diperhatikan dan dihargai. Dan yang penting lagi guru hendaknya rajin memberikan apresiasi atau pujian bagi para peserta didik, antara lain dengan mengumumkan hasil prestasi, mengajak peserta didik yang lain memberikan selamat atau tepuk tangan, memajang hasil karyanya di kelas atau bentuk penghargaan lainnya.
e. Adanya konsistensi dalam penerapan aturan atau perlakuan oleh guru di dalam proses belajar mengajar.
Perlu diingat bahwa bila terjadi kesalahan dalam hal perlakuan oleh guru di dalam pengelolaan kelas pada waktu yang lalu maka hal itu berpengaruh negatif terhadap kegiatan selanjutnya. Penerapan peraturan yang tidak konsisten, tidak adil, atau kesalahan perlakuan yang lain akan menimbulkan kekecewaan dari para peserta didik, dan hal ini akan berpengaruh terhadap tingkat keaktifan belajar peserta didik. Karena itu di dalam memberikan sanksi harus sesuai dengan ketentuannya, memberi nilai sesuai kriteria, dan memberi pujian tidak pilih kasih.
Macam-macam bentuk motivasi di atas dapat dimanfaatkan oleh guru untuk mendapatkan umpan balik dari anak didik dalam proses belajar mengajar.
D. Menggunakan Metode yang bervariasi
Proses belajar dewasa ini menuntut seorang guru memiliki keterampilan atau metode yang beragam agar proses belajar tersebut menyenangkan dan mampu mengembangkan kemampuan muridnya. Metode merupakan hal yang lebih penting dari materi yang akan diajarkan. Menurut DR. Ahmad Tafsir, metode adalah cara yang paling tepat dan cepat, kata “cepat dan tepat disini sering diungkapkan dengan ungkapan efektif dan efisien . Di sini seorang guru harus memilih cara yang efektif dan efisien dalam mentransformasi dan mengembangkan pengetahuan muridnya dan metode dalam pembelajaran agama Islam adalah cara yang efektif dan efisien dalam mengajarkan agama Islam itu sendiri. Pengajaran yang efektif artinya pengajaran yang dapat dipahami murid secara sempurna, dalam hal ini ialah pengajaran yang berfungsi pada murid. “Berfungsi” artinya menjadi milik murid, pengajaran itu membentuk dan mempengaruhi pribadinya. Adapun pengajaran cepat adalah pengajaran yang tidak memerlukan waktu yang lama, artinya pengajaran tersebut difasilitasi alat–alat pembelajaran yang dapat mempermudah pemahaman murid terhadap materi yang diajarkan.
Metode adalah strategi yang tidak bisa ditinggalkan dalam proses belajar mengajar. Setiap kali mengajar guru pasti menggunakan metode. Metode yang digunakan itu tidak sembarangan, melainkan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Penggunaan metode yang bervariasi dapat menjembatani gaya-gaya belajar anak didik dalm menyerap bahan pelajaran. Umpan balik dari anak didik akan bangkit sejalan dengan penggunaan metode mengajar yang sesuai dengan kondisi psikologis anak didik.
Macam-macam metode konvesional dalam pembelajaran antara lain :
1. Metode ceramah
2. Metode diskusi
3. Metode tanya jawab
4. Metode demonstrasi dan eksprimen
5. Metode resitasi
6. Metode kerja kelompok
7. Metode sosio-drama
8. Metode karya wisata
9. Metode drill
10. Metode sistim regu
Selain dari metode konvesional di atas, masih banyak metode yang dapat digunakan oleh guru guna mendapatkan umpan balik dari bahan pelajaran yang diajarkan. Seperti metode active learning 101 cara belajar siswa aktif karangan Melvin L. Silberman.
III Simpulan
Teknik-teknik mendapatkan umpan balik, diantaranya dengan;
• memancing apersepsi anak didik
• memanfaatkan teknik alat bantu akseptabel
• memilih bentuk motivasi yang akurat
• menggunakan metode yang bervariasi.
IV Daftar Pustaka
Bahri Djamarah, Syaiful., Satartegi Belajar Mengajar, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006
Http/; Dokumens multiply.Com
Robinson Situmorang, Atwi Suparman dan Rudi Susilana, 2004, Desain Pembelajaran, Jakarta : Universitas Terbuka
Tafsir, Ahmad., 2007, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Jakarta: PT Remaja Rosda Karya.
Usman, Basyiruddin., 2002, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, Jakarta : Ciputat Pers

Dasar-dasar Pertimbangan Pemilihan Metodologi Pembelajaran PAI (Pendidikan Agama Islam)

I. Latar Belakang
Suatu hari seorang nelayan di pinggir sungai Musi, Palembang ingin sekali menikmati pindang ikan. Dengan niatnya itu, si nelayan lalu bergegas mempersiapkan alat-alat yang digunakan untuk menangkap ikan seperti ; pancing, jaring dan boom ikan. Disini nelayan itu harus menentukan alat apa yang harus digunakan menangkap ikan agar tangkapannya banyak dan segar-segar. Setelah ditimbang-timbang alat yang tepat untuk digunakan menangkap ikan, si nelayan memilih jaring karena dengan menggunakan jaring pastinya ikan yang di dapat lebih banyak dibandingkan dengan pancing dan tidak berbahaya dibanding menggunakan boom serta penggunaan jaring tidak banyak menghabiskan waktu / lebih efisien. Singkat cerita pada sore harinya si nelayan itu pun berhasil mendapatkan banyak ikan, memindangnya dan sebagiannya untuk dijual.
Sengaja ilustrasi di atas kami tampilkan dalam makalah ini sebagai penegasan bahwa seseorang harus memiliki keterampilan dan kepandaian mensiasati suatu tujuan yang ingin dicapainya agar tepat sesuai dengan yang diinginkan. Seorang guru yang merupakan salah satu komponen manusiawi di bidang kependidikan harus berperan serta secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional, salah satu peran seorang guru adalah menjadi fasilitator, guru dalam hal ini akan memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar-mengajar, guru harus menciptakan suasana kegiatan belajar yang sedimikian rupa, serasi dengan perkembangan siswa, sehingga interaksi belajar-mengajar akan berlangsung secara efektif[1].
Proses belajar dewasa ini menuntut seorang guru memiliki keterampilan atau metode yang beragam agar proses belajar tersebut menyenangkan dan mampu mengembangkan kemampuan muridnya. Metode merupakan hal yang lebih penting dari materi yang akan diajarkan. Menurut DR. Ahmad Tafsir, metode adalah cara yang paling tepat dan cepat, kata “cepat dan tepat disini sering diungkapkan dengan ungkapan efektif dan efisien[2]. Di sini seorang guru harus memilih cara yang efektif dan efisien dalam mentransformasi dan mengembangkan pengetahuan muridnya dan metode dalam pembelajaran agama Islam adalah cara yang efektif dan efisien dalam mengajarkan agama Islam itu sendiri. Pengajaran yang efektif artinya pengajaran yang dapat dipahami murid secara sempurna, dalam hal ini ialah pengajaran yang berfungsi pada murid. “Berfungsi” artinya menjadi milik murid, pengajaran itu membentuk dan mempengaruhi pribadinya. Adapun pengajaran cepat adalah pengajaran yang tidak memerlukan waktu yang lama, artinya pengajaran tersebut difasilitasi alat–alat pembelajaran yang dapat mempermudah pemahaman murid terhadap materi yang diajarkan.
Agar metode yang digunakan terasa nyaman, menyenangkan di dalam proses pembelajaran dan membuat para murid selalu bersemangat untuk mengikuti proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), seorang guru (PAI) haruslah memiliki dasar-dasar pertimbangan sebelum menggunakan suatu metode. Makalah ini membahas dasar-dasar pertimbangan ketika akan memilih suatu metode di dalam pembelajaran pendidikan agama Islam.
II. Pembahasan
Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan seorang guru di dalam menggunakan suatu metode pembelajaran, yaitu; tujuan, peserta didik, bahan pelajaran, fasilitas, situasi,partisipasi, guru, kebaikan dan kelemahan metode tertentu. Sama halnya dengan faktor di atas, Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar Mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih dan mengaplikasikan metode pengajaran: 1). Tujuan yang hendak dicapai, 2) Kemampuan guru, 3) Anak didik, 4) Situasi dan kondisi pengajaran di mana berlangsung, 5) Fasilitas yang tersedia, 6) Waktu yang tersedia, 7). Kebaikan dan kekurangan sebuah metode[3].
1. Tujuan yang hendak di capai
Setiap orang yang mengerjakan sesuatu haruslah mengetahui dengan jelas tentang tujuan yang hendak di capainya. Demikian juga setiap pendidik atau guru yang pekerjaan pokoknya mendidik dan mengajar harus mengerti dengan jelas tentang tujuan pendidikan. pengertian akan tujuan pendidikan ini mutlak perlu sebab tujuan itulah yang menjadi sasaran dan dan menjadi pengarah daripada tindakan-tindakanya dalam menjalan fungsinya sebagai guru disamping menjadi sasaran dan menjadi pengarah, tujuan pendidikan dan pengajaran juga berfungsi sebagai pemilihan dan penentuan alat-alat (termasuk metode) yang digunakan dalam mengajar.
Menurut Abu Ahmadi mengatakan bahwa tahap-tahap tujuan pendidikan Islam meliputi:1. tujuan tertinggi, 2. tujuan umum 3. tujuan khusus, 4. tujuan sementara. Dalam tujuan pendidikan Islam, tujuan tertinggi atau terakhir ini pada akhirnya sesuai dengan tujuan hidup manusia, dan perannya sebagai makhluk ciptaan Allah, yaitu: 1 menjadi hamba Allah (Q.S Az- Zariat: 56), 2 mengantarkan peserta didik menjadi khalifah fi al-Ardh (Q.S. 2 ; 20), 3 untuk memperoleh kesejahteraan, kebahagiaan hidup di dunia sampai akhirat, baik individu maupun masyarakat (Q.S Al Baqarah : 21 dan Al-Qashash : 77)[4].
Tujuan umum itu perlu dijabarkan menjadi tujuan khusus atau yang disebut Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) sebab dengan demikian guru akan mendapatkan yang jelas tentang apa yang hendak di capainya itu dan guru dapat mempersiapkan alat-alat apa yang akan di pakainya serta metode yang tepat yang akan digunakannya[5]. Ditegaskan lagi oleh Melvin L. Silberman, Guru yang menginginkan pembelajaran bidang studinya berjalan aktif, maka guru harus mengetahui kebutuhan dan harapan siswa dalam bidang studi yang akan dipelajari, sehingga dengan mengetahui tujuan siswa maka pembelajaran aktif akan terwujud[6]. Hal ini dapat guru tanyakan pada awal pembelajaran, “apa yang dibutuhkan oleh siswa pada bidang studinya?”. Dengan demikian siswa akan aktif dikarenakan kebutuhannya akan bidang studi yang dipelajarinya dipenuhi.
2. Peserta Didik.
Para peserta didik merupakan faktor yang tak kalah penting yang harus dipertimbangkan oleh guru dalam memilih metode mengajar. Ini sebab metode mengajar itu ada yang menuntut pengetahuan dan kecekatan tertentu misalnya; metode diskusi menuntut pengetahuan yang cukup banyak supaya pesarta diskusi dapat mengetahui serta menilai benar atau salahnya suatu pendapat yang dikemukakan peserta lain dan penguasaan bahasa serta keterampilan dalam mengemukakan pendapat. Menurut Basyiruddin Usman, perbedaan karakteristik siswa dipengaruhi oleh latar belakang kehidupan sosial ekonomi, budaya, tingkat kecerdasan, dan watak mereka yang berlainan antara satu dengan yang lainnya, menjadi pertimbangan guru dalam memilih metode apa yang baik digunakan[7].
Semakin tinggi jenjang pendidikan peserta didik semakin sederhana metode yang kita gunakan. Sebaliknya semakin rendah jenjang pendidikan peserta didik semakin bervariasi metode yang digunakan. Untuk pendidikan dasar lebih diutamakan metode yang melibatkan psikomotorik dan afektif (seperti demonstrasi, simulasi, peragaan, kerja praktik dan sejenisnya), sedangkan pada pendidikan tinggi lebih diutamakan metode yang melibatkan aspek kognitif (diskusi, seminar, studi kasus, dll). Namun tidak menutup kemungkinan setiap metode digunakan di semua jenjang pendidikan[8].
3. Bahan Pelajaran.
Bahan pelajaran yang menuntut kegiatan penyelidikan oleh peserta didik hendaklah disajikan melalui metode unit/metode proyek. Apabila bahan pelajaran mengandung problem-problem harus disajikan melalui metode-metode pemecahan masalah. Bahan pelajaran yang berisi fakta-fakta dapat disajikan misalnya melalui metode ceramah, sedangkan bahan pelajaran yang terdiri dari latihan-latihan misalnya keterampilan–keterampilan disajika melalui metode drill, dan sebagainya.
Jenis materi pelajaran (kognitif, psikomotorik, afektif), setiap guru terlebih dahulu harus mengenali kecenderungan materi yang akan diajarkan, metode materi yang cinderung dominan pada kognitif akan berbeda dengan metode materi yang dominan pada psikomotorik dan afektif[9].
4. Fasilitas
Yang termasuk dalam faktor fasilitas ini antara lain adalah praga, ruang waktu, buku-buku, perpustakaan, kerapatan tempat dan alat-alat praktikum, fasilitas ini turut menentukan metode mangajar yang akan di pakai oleh guru. Pengaruh fasilitas dan pemilihan serta penentuan metode ini ternyata dalam situasi di mana metode Demonstrasi dan Ekperiment tidak dapat dipakai karena tidak tersedianya alat-alat dan bahan-bahan untuk mengadakan demontrasi dan eksperimen /percobaan.
Dalam proses pembelajaran, lingkungan fisik dalam kelas dapat mendukung atau menghambat kegiatan belajar aktif. Di sini guru dapat mengubah tata letak bangku dan meja agar proses pembelajaran lebih menyenangkan dan menantang, suatu tata letak bangku yang beda dari biasanya akan akan membantu siswa dalam mengingat materi yang diajarkan pada saat itu. Melvin L Silberman memberikan beberapa contoh tata-letak kursi dan meja yang dapat dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran aktif, seperti; bentuk U, gaya tim, meja konferensi, lingkaran, kelompok pada kelompok, ruang kerja, pengelompokan berpencarformasi tanda pangkat, ruang kelas tradisional dan auditorium[10].
Sekolah yang memiliki peralatan dan media yang lengkap, gedung yang baik, dan sumber belajar yang memadai akan memudahkan guru dalam memilih metode yang bervariasi[11].
5. Situasi
Yang termasuk dalam situasi disini ialah keadaan peserta didik (yang menyangkut kelelahan mereka, semangat mereka) keadaan cuaca, keadaan guru, keadaan kelas yang berdekatan yang diberikan pelajaran dengan metode tertentu.
Terdapat beberapa saran di dalam memperkaya situasi atau lingkungan kelas, yaitu: 1. dengan memperkaya kelas dengan warna dan 2. Dengan memberikan wangi-wangian/ aroma. Menurut Morton Walker dalm bukunya The Power of Color (1991), menegaskan bahwa setiap warna memiliki panjang gelombang, dari ultraviolet hingga inframerah (atau merah hingga biru) dapat mempengaruhi tubuh dan otak kita secara berbeda. Contoh warna biru dapat memberikan ketenangan, meningkatkan perasaan nyaman. Dan begitu juga dengan aroma, Dave Maier mengatakan wewangian benar-benar dapat berpengaruh positif pada pemrosesan mental, contohnya kayu manis dapat menambah kegembiraan dan kebaikan[12]. Banyak hal yang dapat dilakukan guru untuk menambah kenyamanan, keasyikan belajar di dalam kelas maupun di luar kelas.
6. Partisipasi
Paritsipasi adalah turut aktif dalam suatu kejadian. Apabila guru ingin agar peserta didik turut aktif sama merata dalam suatu kegiatan, guru tersebut tentunya akan menggunakan metode kerja kelompok/demikian pula apabila peserta didik di kehendaki turut berpartisipasi dalam suatu kegiatan ilmiah, misalnya mengumpulkan data yang kemudian disajikan dalam pembahasan ilmiah maka tentunya guru akan menggunakan metode unit atau metode seminar.
Dalam pembelajaran aktif partisipasi siswa sangat diperlukan ada beberapa cara untuk menyusun diskusi dan mendapatkan respon dari siswa pada saat kapan saja selama pelajaran, yaitu ; diskusi terbuka, kartu jawaban, jejak-pendapat, diskusi sub kelompok, mitra belajar, penyemangat, panel, ruang terbuka, permainan dan memanggil acara selanjutnya[13].
7. Guru
Guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar-mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan. Di dalam metode mengajar, guru dituntut untuk memenuhi syarat-syarat yang perlu dipenuhi misalnya tiap guru yang akan menggunakan metode tertentu ia harus mengerti tentang metode tersebut (misalnya jalannya pengajaran serta kebaikan dan kelemahannya, situasi-situasi yang tepat dimana metode itu efektif dan wajar) dan terampil menggunakan metode itu. Guru yang bahasanya kurang baik (kurang dapat berbahasa lisan dengan baik) dan tidak bersemangat dalam berbicara kurang pada tempatnya apabila mengguanakan metode ceramah. Guru yang tidak mengetahui seluk beluk tentang metode proyek, tentang metode unit, tidak akan memili metode tersebut dalam menyajikan bahan pelajaran.
Dari apa yang disampaikan diatas dapat disimpulkan bahwa pribadi, pengetahuan, dan kecekatan guru amat menentukan metode mengajar yang akan di gunakan. Kemampuan dasar guru amat mempengaruhi proses belajar mengajar.
8. Kebaikan dan Kelemahan
Tidak ada satu metode yang baik untuk setiap tujuan dalam setiap situasi. Setiap metode mempunyai kelemahan. Guru perlu mengetahui kapan suatu metode tepat di gunakan dan kapan harus digunakan dan kapan harus digunakan kombinasi dari metode-metode. Guru hendaknya memilih metode yang paling banyak mendatangkan hasil. Dan perlu diperhatikan, hendaknya setiap penggunaan metode, menuntut unsur kesenangan dan kegembiraan.
III. Simpulan
Dasar-dasar yang dipertimbangkan di dalam metodologi pendidikan agama Islam adalah:
  • Tujuan Pembelajaran, Peserta Didik, Bahan pelajaran, Fasilitas, Situasi, partisipasi, guru, dan Kebaikan dan kelemahan metode.
IV. Daftar Pustaka
Arief, Armai., 2002, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta : Ciputat Pers
Rakhmat, Jalaluddin., 2007, Belajar Cerdas: Belajar Berbasiskan Otak, Bandung: Mizan Learning Center
Ramayulis, 2005, Metodologi Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Kalam Mulia.
Robinson Situmorang, Atwi Suparman dan Rudi Susilana, 2004, Desain Pembelajaran, Jakarta : Universitas Terbuka
Sardiman, 2004, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar: Rajawali Press
Silberman, Melvin L., 2006, Active Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif, Bandung: Nusamedia dan Nuansa.
Tafsir, Ahmad., 2007, Metodelogi Pengajaran Agama Islam, Jakarta: PT Remaja Rosda Karya.
Usman, Basyiruddin., 2002, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, Jakarta : Ciputat Pers

[1] Sardiman A.M, Interaksi dan Motivasi belajarMengajar, (Jakarta: Rajawali Pres, 2004), hal. 146
[2] DR. Ahmad Tafsir, Metodelogi Pengajaran Agama Islam, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya. 2007), hal. 9.
[3] DR. Armai Arief, M.A. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hal. 109
[4] Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2005), hal.
[5] Basyiruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hal. 32
[6] Melvin. L. Silberman, Active Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif , (Bandung: Nusamedia dan Nuansa, 2006), hal. 45
[7] Basyiruddin Usman, op.cit. hal 32
[8] Robinson Situmorang, Atwi Suparman dan Rudi Susilana, Desain Pembelajaran, (Jakarta : Universitas Terbuka, 2004), hal. 6. 28
[9] Ibid., hal. 6. 28
[10] Melvin L. Silberman, op.cit, hal. 36-40.
[11] Basyiruddin Usman, op., cit, hal 33
[12] Jalaluddin Rakhmat, Belajar Cerdas: Belajar Berbasiskan Otak, (Bandung: Mizan Learning Center,2007), hal. 277-281
[13] Op.cit.,Melvin L. Silberman, hal. 42-44.
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com